Mie Jagung, Alternatif Diversifikasi Pangan


KETERGANTUNGAN tinggi terhadap mi instan berbahan baku terigu perlu dikurangi. Usaha diversifikasi mulai dilakukan IPB dengan melakukan substitusi. Selain itu, meningkatnya kepedulian konsumen terhadap kesehatan turut mendorong peneliti untuk menghasilkan dan mengembangkan produk yang lebih sehat, termasuk dalam bahan dasar penggunaan produk tersebut. Tjahja Muhandri, STP, MT, dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian IPB mengadakan penelitian mi berbahan dasar jagung. Pada 1998, Tjahja mendapat rekomendasi dari Menteri Pangan, dan Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) untuk melakukan penelitian ini.

Produk mi berbahan dasar jagung juga diproduksi Seafast Center IPB setiap minggu. Dalam bukunya, Profil Investasi Mie Jagung, dasar pertimbangan produksi mi jagung yang dikembangkan Seafast Center IPB ini karena kandungan gizi yang cukup tinggi pada jagung. Selain itu, beberapa daerah di Indonesia menjadikan jagung sebagai bahan makanan pokok sehingga bahan baku cukup mudah didapat.

Tjahja mengakui, saat ini mi yang banyak beredar di pasaran adalah mi dengan berbahan dasar terigu yang berbahan dasar gandum. Padahal gandum adalah komoditas 100% impor. Bea masuk untuk gandum yang ditetapkan pemerintah masih sangat rendah karena kebutuhan dan permintaan yang tinggi. Hal itu menyebabkan harga terigu di pasaran menjadi lebih murah. Itulah yang menjadi tantangan pengembangan mi jagung. Harga tepung jagung di pasaran masih lebih mahal jika dibandingkan dengan terigu.

?Kendala yang saya hadapi dalam memproduksi mi jagung ini adalah Presiden sulit menerapkan bea masuk terigu sesuai dengan bea masuk normal. Sehingga daya saing antara mi berbahan dasar terigu dan jagung cukup signifikan. Inilah yang mengakibatkan mi berbahan dasar jagung ini cukup sulit bersaing di pasaran,? ujar Tjahja.

Mi jagung dapat dikonsumsi seperti mi basah yang terbuat dari terigu.

Biasanya dihidangkan dengan berbagai variasi masakan, seperti dalam pembuatan mi bakso dan mi goreng. ?Perbedaan mi berbahan dasar jagung dan terigu ini terlihat dari aroma yang dihasilkan jagung dan rasa gurih yang ditimbulkan dari jagung tersebut. Mi jagung ini baik untuk penderita autisme, karena jagung memiliki kandungan gizi dan vitamin yang cukup tinggi, serta dapat merangsang kecerdasan,? ungkap Tjahja Mahandri.

Mi jagung memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan mi berbahan terigu. Keunggulan tersebut di antaranya pewarnaan alami yang berasal dari warna yang dihasilkan jagung sendiri. Pewarnaan yang dihasilkan ini menjadikan mi jagung aman untuk dikonsumsi. Mi jagung juga kaya karbohidrat, memiliki serat yang tinggi, dan mengandung karoten yang dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Penelitian terhadap mi jagung ini pernah membawa mahasiswa IPB menjadi juara ketiga dalam Kompetisi Internasional dalam Pengembangan Teknologi Pangan di Anaheim, Amerika Serikat. Pada kompetisi internasional yang diadakan Institute of Food Technologist (IFT) Student Association pada 6 – 9 Juni 2009 tersebut, mi jagung diperkenalkan sebagai makanan diversifikasi untuk menggantikan beras.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s