FORTIFIKASI VITAMIN A PADA PRODUK MINYAK MIE INSTAN SEBAGAI UPAYA MENGATASI MASALAH KEKURANGAN VITAMIN A DI INDONESIA


Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih memiliki masalah kekurangan vitamin A pada penduduknya. Hasil survei nasional masalah KVA (Kekurangan Vitamin A) pada tahun 1992 menunjukkan adanya penurunan prevalensi KVA klinis dari 1.3% menjadi 0.3% dan masalah KVA pada tingkat subklinis (kadar serum retinol <20 mg/dL darah) di kalangan balita adalah sebesar 50%. Namun hasil survei skala kecil tahun 1999 mengindikasikan adanya peningkatan kasus KVA akibat krisis ekonomi dan kemiskinan. Apabila penanggulangannya tidak segera dilakukan maka risiko yang ditimbulkan akibat KVA, seperti kebutaan, penurunan imunitas, dan gangguan pertumbuhan sel akan terus meningkat. Fortifikasi pangan dianggap sebagai intervensi yang sangat efektif dalam meningkatkan status zat gizi mikro penduduk.

            Tanaman kelapa sawit termasuk family Palmae, genus Elaesis dan spesies E. guinensis, yang berasal dari Afrika Barat dan tumbuh di daerah tropis. Bahan baku utama yang dipakai oleh perusahaan yang menghasilkan minyak goreng sawit adalah Crude Palm Oil (CPO). Salah satu alternatif penanganan vitamin A ini adalah fortifikasi vitamin A dari kelapa sawit, yang mengandung β-karoten (proviamin A) 7.29 mg/100 g. Minyak sawit dapat digunakan sebagai vehicle vitamin A karena memenuhi kriteria-kriteria tertentu.

            Selama ini fortifikasi vitamin A hanya dilakukan pada minyak goreng. Vitamin A merupakan vitamin yang cukup stabil dan tidak mudah rusak oleh pemanasan, namun dengan suhu yang tinggi pada penggunaan minyak goreng juga mampu merusak dan menghilangkan sebagian vitamin A yang difortifikasi (Nasoetion et al. 1993). Oleh karena itu, perlu adanya strategi yang lebih sinambung dan dapat menjangkau seluruh sasaran yang menderita defisiensi vitamin A.

            Seperti yang telah diketahui, saat ini produsen mie instan tercatat sekitar 20 perusahaan baik perusahaan berskala besar maupun kecil. Mie instan ini sangat digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, bahkan bantuan bahan pokok yang sering diberikan untuk para korban bencana alam adalah mie instan. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk membantu program pemerintah mengenai fortifikasi vitamin A yang lebih efektif dan menyeluruh pada masyarakat.

Fortifikasi dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengolah kelapa sawit menjadi minyak yang banyak mengandung β-karoten, yang selanjutnya diaplikasikan pada pembuatan minyak mie instan. Pada minyak mie instan tersebut vitamin A akan lebih stabil saat penyimpanan maupun saat penyajiannya karena tidak menggunakan suhu yang terlalu tinggi ketika dikonsumsi. Dengan demikian, vitamin A yang difortifikasi tersebut akan lebih efektif dan efisien masuk ke dalam tubuh.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kekurangan vitamin A masih menjadi masalah di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Tahun 1995 terdapat kurang lebih 250 juta anak balita di seluruh dunia yang menderita kurang vitamin A (KVA), tiga juta diantaranya menunjukkan gejala kerusakan mata seperti kebutaan. Sekitar 10% kasus orang buta di negara berkembang, termasuk Indonesia disebabkan oleh kekurangan vitamin A (Khomsan 2004).

Berbagai penelitian 20 tahun terakhir memberi bukti nyata bahwa kekurangan vitamin A tidak hanya menyebabkan kebutaan, tetapi juga berdampak buruk terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Anak-anak dengan xeroftalmia (penyakit mata akibat kekurangan vitamin A) ringan, mempunyai risiko 2-3 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dan diare, bahkan dapat menyebabkan kematian. Suatu penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara β-karoten dan vitamin A dengan pencegahan dan penyembuhan penyakit jantung koroner dan kanker. Hal ini terkait dengan fungsi betakaroten dari vitamin A sebagai antioksidan yang mampu melawan radikal bebas (Al Haj dan Piliang 2006).

Sejauh ini intervensi yang sudah dilakukan untuk mengatasi KVA di Indonesia masih sangat terbatas dan belum cukup efektif. Intervensi yang diberikan lebih bersifat jangka pendek dan hanya ditargetkan untuk kelompok yang berisiko tinggi saja, seperti pemberian suplemen kapsul vitamin A (Hardinsyah dan Amalia 2002a). Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan meluncurkan program rintisan fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Nasional, Selasa 25 Januari 2011. Fortifikasi merupakan salah satu upaya preventif menangani kurang gizi, dalam hal ini vitamin A. Vitamin A merupakan vitamin yang cukup stabil dan tidak mudah rusak oleh pemanasan, namun dengan suhu yang tinggi pada penggunaan minyak goreng juga mampu merusak dan menghilangkan sebagian vitamin A yang difortifikasi (Nasoetion et al. 1993). Oleh karena itu, perlu adanya strategi yang lebih sinambung dan dapat menjangkau seluruh sasaran yang menderita defisiensi vitamin A.

Salah satu alternatif penanganan vitamin A ini adalah fortifikasi vitamin A dari kelapa sawit, yang mengandung β-karoten (proviamin A) 7.29 mg/100 g pada mie instan. Seperti yang telah diketahui, saat ini produsen mie instan tercatat sekitar 20 perusahaan baik perusahaan berskala besar maupun kecil. Mie instan ini sangat digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, bahkan bantuan bahan pokok yang sering diberikan untuk para korban bencana alam adalah mie instan. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk membantu program pemerintah mengenai fortifikasi vitamin A yang lebih efektif dan menyeluruh pada masyarakat.

Fortifikasi dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengolah kelapa sawit menjadi minyak yang banyak mengandung β-karoten, yang selanjutnya diaplikasikan pada pembuatan minyak mie instan. Pada minyak mie instan tersebut vitamin A akan lebih stabil saat penyimpanan maupun saat penyajiannya karena tidak menggunakan suhu yang terlalu tinggi ketika dikonsumsi. Dengan demikian, vitamin A yang difortifikasi tersebut akan lebih efektif dan efisien masuk ke dalam tubuh.

Tujuan dan Manfaat

Penulisan karya ini dilakukan dengan tujuan mengetahui cara yang lebih efektif dan efisien memfortifikasikan vitamin A. Tujuan yang lainnya adalah menambah kandungan gizi dalam mie instan. Penulisan juga bertujuan untuk membantu program pemerintah untuk menanggulangi gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin A. Karya tulis ini diharapkan mampu mengembangkan peran serta mahasiswa dalam menangani masalah yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat.

Manfaat dari penulisan karya ini untuk membantu mencegah penyakit yang disebabkan kekurangan vitamin A. Setelah membaca karya tulis ini, pembaca dapat mengetahui kegunaan dari kelapa sawit sebagai alternatif fortifikasi vitamin A dan dalam minyak mie instan mengandung vitamin A. Selain itu agar mie instan mempunyai kandungan gizi yang lebih dan dapat menjadi alternatif fortifikasi vitamin A yang lebih efektif, efisien, dan menyeluruh.

GAGASAN

Vitamin A adalah sekelompok senyawa organik kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif kecil tetapi sangat penting untuk pertumbuhan dan menjaga kesehatan. Keberadaan vitamin A tidak dapat disintesis dari dalam tubuh. Oleh karena itu untuk mendapatkan jumlah vitamin yang cukup harus diperoleh dari asupan makanan (Linder 1992).

Vitamin A merupakan Kristal berwarna kuning larut lemak yang dapat tercampur secara merata dalam minyak. Tubuh akan mudah mengabsorbsi vitamin A dengan adanya minyak (Bagriansky dan Ranum 1998). Vitamin A dalam tumbuhan terdapat dalam bentuk prekusor (provitamin). Provitamin A terdiri dari α, β, dan γ- karoten. β-karoten merupakan pigmen kuning dan salah satu jenis antioksidan yang memegang peran penting dalam mengurangi reaksi berantai radikal bebas dalam jaringan.

β-karoten merupakan provitamin A yang terdapat dalam tanaman. Diperkirakan setiap 6 mg β-karoten mempunyai aktivitas biologi 1 mg retinol. Karena alasan tersebut, aktivitas vitamin A dalam bahan pangan dinyatakan sebagai ekuivalen retinol yang dilakukan dengan cara menambahkan kandungan retinol yang ada dengan 1/6 kandungan β-karoten. Satuan takaran yang digunakan untuk vitamin A adalah International Unit (IU) atau Satuan Internasional (SI) (Winarno 1997).

Gambar 1 Struktur vitamin A dan β-karoten.

            Berbagai fungsi vitamin A sudah dipelajari secara intensif dalam beberapa tahun terakhir ini. Ada empat fungsi utama vitamin A, yaitu (1) fungsi penglihatan, (2) fungsi diferensiasi sel-sel epitel, (3) fungsi pertumbuhan, dan (4) fungsi reproduksi (Linder 1992). Semua fungsi utama tersebut berhubungan dengan pertumbuhan tulang, pembelahan dan diferensiasi sel penglihatan (sel rhodopsin), perkembangan embrio dan spermatogenesis, sintesis protein dan RNA, pembentuk enzim, hormon dan sel-sel imunitas, rambut dan kulit, integritas sel-sel dan jaringan terutama selaput lendir kelopak mata, hidung, mulut, dan pencernaan, nafsu makan, daya tahan tubuh terhadap infeksi, serta mencegah benzopiren yang lebih dikenal dengan kanker paru-paru (Bagriansky dan Ranum 1998). Jumlah kecukupan vitamin A yang dianjurkan untuk anak balita dan orang dewasa (perorang perhari) dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Angka kecukupan vitamin A rata-rata yang dianjurkan

Golongan Umur Kecukupan Vitamin A (RE)
0-6 bulan

7-12 bulan

1-3 tahun

4-6 tahun

7-9 tahun

350

350

350

460

400

Pria:

10-12 tahun

13-15 tahun

16-59 tahun

<60 tahun

500

600

700

600

Wanita:

10-12 tahun

13-15 tahun

16-59 tahun

<60 tahun

500

500

500

500

Wanita:

10-12 tahun

13-15 tahun

16-59 tahun

<60 tahun

500

500

500

500

Wanita Hamil +200
Wanita Menyusui:

0-6 bulan

7-12 bulan

+350

+300

Sumber: Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (1998)

Salah satu masalah zat gizi mikro yang mendapat perhatian besar secara internasional adalah Kurang Vitamin A (KVA). Masalah ini dapat berubah dari waktu ke waktu, tergantung pada kemajuan penanggulangannya dan hasil penelitian baru. Kasus KVA dan vitamin larut lemak lainnya banyak terjadi terutama pada anak kecil yang kurang mempunyai cadangan vitamin ini dalam tubuhnya (Bagriansky dan Ranum 1998). Beberapa data menunjukkan bahwa hampir 10 juta anak balita Indonesia menderita KVA sublinis dan 60 ribu diantaranya disertai dengan bercak bitot yang mengancam pada kebutaan (Departemen Kesehatan RI 2004).

Penanggulangan atau intervensi KVA dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama pendekatan melalui makanan (food-base intervation) dan kedua tidak melalui makanan (non food- base intervation). Intervensi KVA berbasis makanan antara lain (1) promosi Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), (2) peningkatan dan pemanfaatan tanaman pekarangan dan kebun sekolah, dan (3) fortifikasi vitamin A. Sedangkan intervensi KVA tidak berbasis makanan dilakukan dengan program suplementasi, yaitu memberikan tambahan (suplemen) kapsul vitamin A kepada anak dan ibu nifas. Program ini cukup menanggulangi KVA di Indonesia dengan pemberian vitamin A dosis tinggi yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu 100.000 IU untuk bayi usia 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk anak prasekolah dan ibu yang baru melahirkan (Soekirman 2000).

Namun suplementasi hanya efektif untuk implementasi jangka pendek, hanya diberikan pada kelompok individu tertentu pada masyarakat (kelompok berisiko tinggi), dan mahal dari segi biaya. Oleh karena itu dikembangkan strategi intervensi melalui pendekatan makanan, termasuk fortifikasi pangan. Program fortifikasi pangan ini dinilai sangat efektif karena dapat diimplementasikan untuk jangka menengah panjang, dilakukan pada bahan pangan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat banyak sehingga target untuk semua individu dalam masyarakat tercapai dan biaya lebih murah dari pada suplementasi.

Fortifikasi vitamin A adalah penambahan zat gizi mikro vitamin A ke dalam bahan pangan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan mutu konsumsi vitamin A yang ditambahkan dalam rangka memperbaiki status zat gizi mikro dari masyarakat yang mengkonsumsinya. Secara umum fortifikasi vitamin A bertujuan untuk (1) menjaga agar vitamin A tetap berada dalam jumlah yang signifikan dalam pangan, (2) mencegah defisiensi vitamin A (orang tua, ibu hamil, vegetarian, dan anak-anak), (3) meningkatkan kualitas gizi produk makanan, dan (4) sebagai sarana teknologi pangan sehingga dapat dihasilkan pangan yang bisa disubstitusi dengan pangan lain (Lotfi et al. 1996).

Metode fortifikasi vitamin A yaitu vitamin A dipersiapkan dalam bentuk larutan minyak, emulsi atau kering. Preparat stabil dapat dimasukkan ke multivitamin mineral premix atau ditambahkan langsung ke dalam pangan, dalam hal ini adalah minyak mie instan. Bentuk komersial vitamin A yang paling penting adalah vitamin A asetat dan vitamin A palmitat. Vitamin A dalam bentuk retinol atau karoten dapat dibuat secara komersial untuk ditambahkan dalam pangan, minyalnya produk minyak mie instan. Ada beberapa pangan sebagai vehicles (pembawa) vitamin A seperti minyak dan lemak, gula, garam, teh, sereal, dan MSG (Lotfi et al. 1996).

Sumber utama vitamin A dapat diperoleh dari berbagai pangan hewani seperti telur, keju, susu, daging, hati, unggas, minyak ikan, dan ikan yang tinggi kandungan lemaknya. Sayuran dan buah-buahan yang berwarna kuning atau merah juga merupakan sumber utama retinol seperti kelapa sawit. Kandungan vitamin A pada sayuran hijau tidak terlalu tinggi tetapi penting artinya sebagai sumber vitamin A bagi masyarakat di pedesaan karena murah dan dapat diperoleh secara lokal (Winarno 1997).

Tanaman kelapa sawit termasuk family Palmae, genus Elaesis dan spesies E. guinensis, yang berasal dari Afrika Barat dan tumbuh di daerah tropis. Bahan baku utama yang dipakai oleh perusahaan yang menghasilkan minyak goreng sawit adalah Crude Palm Oil (CPO) (Gunstone 1997).

Minyak sawit dapat digunakan sebagai vehicle vitamin A karena memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut yaitu (1) komponen vitamin A dan provitamin A larut dalam minyak sehingga ketika ditambahan ke dalam minyak vitamin dan provitamin A dapat dengan mudah tercampur rata, (2) vitamin A lebih stabil dalam minyak daripada bahan pangan lainnya karena terlindung dari kontak dengan udara, hal ini menunda terjadinya oksidasi dan memperpanjang stabilitas vitamin A tersebut, (3) minyak memudahkan absorpsi dan pemanfaatan vitamin A di dalam tubuh sehingga fortifikasi vitamin A merupakan cara yang tepat untuk mengurangi defisiensi vitamin A, (5) konsumsi tidak terlalu dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, (6) dikonsumsi secara teratur dengan jumlah yang relatif konstan, (7) variasi pola konsumsi antar individu cukup kecil, (8) variasi pola konsumsi antar regional relatif kecil, (9) diproduksi secara terpusat, yaitu hanya sejumlah kecil industri ditingkat nasional, (10) teknologi yang dibutuhkan cukup sederhana, (11) setelah difotifikasi, pangan tersebut masih tetap diterima baik oleh konsumen, yaitu tidak menimbulkan perubahan warna, rasa, dan penampakkan (Hardiansya dan Amalia 2002b).Beberapa perusahaan minyak goreng menggunakan tanaman sawit sebagai bahan dasar proses pembuatan minyak goreng. Proses pembuatan minyak goreng sawit terdiri dari dua tahap, yaitu pemurnian dan fraksinasi (pemisahan). Proses pemurnian dilakukan untuk menghilangkan kotoran, air, dan asam lemak bebas pada minyak sawit (refining process), warna (bleaching process), serta bau (deodorizing process) yang tidak diinginkan. Minyak sawit murni (refined, bleached and deodorized palm oil atau RBDPO) kemudian diolah lebih lanjut dengan proses fraksinasi untuk memisahkan fraksi cair (olein) dan fraksi padat (stearin) fraksi olein mempunyai bilangan iod tinggi dan titik leleh rendah, fraksi inilah yang digunakan sebagai minyak goreng.

Hasil penelitian Favaro menunjukkan bahwa stabilitas vitamin A pada minyak goreng semakin menurun dengan semakin seringnya dilakukan pengulangan penggorengan pada kentang yang menggunakan metode penggorengan pada suhu rendah (130-170oC). Retensi vitamin A turun menjadi 83 persen setelah penggorengan pertama, 81 persen dengan dua kali pengulangan, 71 persen setelah tiga kali pengulangan, 52 persen setelah empat kali pengulangan, dan seterusnya sampai hamper mencapai 0 persen setelah 12 kali pengulangan (Bagrainsky dan Ranum 1998).

Hal yang sama juga terjadi pada metode penggorengan suhu tinggi (180-200oC). Stabilitas vitamin A semakin rendah dengan semakin seringnya dilakukan penggorengan. Penurunan stabilitas vitamin A pada metode ini lebih besar dibandingkan dengan metode penggorengan suhu rendah.

Kerusakan minyak goreng karena pemanasan pada dasarnya disebabkan oleh beberapa reaksi antara lain reaksi oksidasi, polimerasi, dan hidrolisis. Menurut Winarno (1999), kerusakan lemak yang utama adalah timbulnya bau dan rasa tengik yang disebut dengan proses ketengikan. Hal ini disebabkan oleh otooksidasi radikal asam lemak tidak jenuh dalam minyak. Molekul-molekul yang mengandung radikal asam lemak tidak jenuh mengalami oksidasi dan menjadi tengik.

Selama proses penanganan, pengolahan, dan distribusi, vitamin A akan selalu berinteraksi dengan berbagai faktor, yaitu suhu, air, pH, oksigen, cahaya, katalis/inhibitor, interaksi internal, dan waktu. Intensitas masing-masing interaksi tersebut akan dipengaruhi oleh teknologi formulasi, bahan baku, dan teknologi proses yang digunakan.

Komponen lain yang terdapat dalam minyak sawit adalah karotenoid dan tokoferol. Karotenoid berfungsi sebagai provitamin A dan antioksidan sedangkan tokoferol mempunyai aktivitas sebagai vitamin E dan antioksidan. Secara umum minyak yang berasal dari buah sawit berwarna merah lebih banyak mengandung karotenoid daripada buah yang berwarna jingga. Karotenoid dalam minyak mengandung α dan β-karoten dan sejumlah kecil γ-karotenoid, likopen, dan xantofil. Namun hanya α dan β-karoten yang mempunyai aktivitas sebagai provitamin A sedangkan karotenoid yang lain mempunyai aktivitas provitamin A sangat rendah (Winarno 1999).

Proses pembuatan minyak goreng sawit pada suhu tinggi menyebabkan berkurangnya komponen vitamin A sehingga diperlukan alternatif agar kandungan vitamin A dalam minyak sawit dapat dikonsumsi dengan jumlah yang sama saat proses pembuatan. Salah satu alternatif yang diusulkan adalah fortifikasi minyak sawit pada minyak mie instan. Saat ini produk mie instan merupakan makanan yang umum dikonsumsi di Indonesia. Selain mudah dikonsumsi mie instan pun menjadi salah satu produk yang sangat efisien untuk disalurkan ketika terjadi bencana. Namun, saat ini zat gizi yang terkandung dalam mie instan belum mencukupi kebutuhan zat gizi mikro.

Minyak pada mie instan biasanya terbuat dari minyak sayur. Sebagai bahan penambah gizi maka ditambahkan vitamin A ke dalam minyak tersebut. Dengan menambahkan vitamin A pada minyak mie instan dapat mengurangi permasalahan menghilangnya vitamin A pada saat pemanasan minyak. Oleh karena itu, vitamin A akan lebih efektif dan efisien masuk ke dalam tubuh melalui minyak mie instan yang telah difortifikasi daripada melalui minyak goreng yang difortifikasi.

Pihak-pihak yang dapat mengimplementasikan gagasan mengenai fortifikasi vitamin A pada minyak mie instan berbahan dasar kearifan lokal ini adalah pemerintah dan lembaga konsumen Indonesia (YLKI) sebagai pihak yang akan memperkenalkan gagasan ini kepada masyarakat dan pembuat keputusan. Petani kelapa sawit merupakan perangkat yang menyediakan bahan baku. Perusahaan-perusahaan mie instan merupakan pihak yang akan memproduksi mie instan berfortifikasi vitamin A.Langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan gagasan adalah pertama survei konsumsi mie instan dikalangan masyarakat secara umum, kemudian dilakukan perhitungan jumlah vitamin A yang akan difortifikasikan dalam minyak mie instan. Gagasan tersebut kemudian direalisasikan dengan cara penanaman kelapa sawit yang kemudian dibuat minyak. Minyak kelapa sawit yang mengandung vitamin A tersebut kemudian difortifikasikan pada pembuatan minyak mie instan. Setelah itu produk minyak mie instan tersebut diuji kandungan vitamin A di dalamnya dan diuji keefektifan dan keefisienannya. Hasil tersebut dipublikasikan kepada masyarakat oleh pemerintah, lembaga konsumen Indonesia dan badan penyuluh atau perangkat desa. Setelah itu, perusahaan-perusahaan mie instan di Indonesia diharuskan memproduksi mie instan-mie instan yang berfortifikasi vitamin A tersebut. Mie instan berfortifikasi tersebut kemudian didistribusikan pada mayarakat luas oleh para distributor.


SIMPULAN

Kelapa sawit memiliki kandungan β-karoten sebagai prekusor vitamin A yang tinggi, yaitu sekitar 7.29 mg/100 g sehingga sangat baik digunakan sebagai bahan fortifikasi vitamin A. Mie instan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara umum. Minyak mie instan adalah media yang baik untuk program fortifikasi vitamin A karena vitamin A larut dan lebih stabil dalam minyak. Konsumsi mie instan tidak dengan suhu yang amat tinggi dan tidak digunakan secara berulang-ulang seperti pada minyak goreng sehingga fortifikasi vitamin A dalam minyak mie instan akan lebih efektif dan efisien masuk ke dalam tubuh. Program pemerintah mengenai fortifikasi vitamin A akan dapat terlaksana secara sinambung dan menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Al Haj SD, Piliang WG. 2006. Fisiologi Nutrisi vol.II. Bogor: IPB Press.

Bagriansky J, Ranum P. 1998. Vitamin A Fortification of P.L. 480 Vegetable Oil. http://www.sustaintech.org. [17 Februari 2011]

Departemen Kesehatan RI. 2004. Sepuluh Juta Balita Indonesia Berisiko Kurang Vitamin A. http://www.depkes.go.id/index.php [15 Februari 2011]

Gunstone FD. 1997. Major Sources of Lipids. Dalam FD Gunstone and FB Padley (Eds.), Lipid Technologies and Applications (hlm 19-50). New York: Marcel Dekker.

Hardinsyah, Amalia L. 2002. Konsumsi Gula Penduduk Indonesia dan Peluangnya untuk Difortifikasi Vitamin A. Bogor: Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi, IPB.

Hardinsyah, Amalia L, Setiawan B. 2002. Fortifikasi Tepung Terigu dan Minyak Goreng. Bogor: Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi IPB, Komisi Fortifikasi Nasional, ADB Manila dan Keystone Center USA.

Khomsan A. 2004. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Jakarta: UI Press.

Lotfi M, Mannar MGV, Merx RJHM, Heuvel PNV. 1996. Micronutrient Fortification of Foods: Current Practises, Research, and Opportunities. Canada: International Development Research Centre.

Nasoetion A, Riyadi H, Mudjajanto ES. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Bogor: IPB Press.

Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Bogor: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, PAU IPB.

Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Winarno FG. 1999. Minyak Goreng dalam Menu Masyarakat. Bogor: Pusat Pengembangan Teknologi Pangan IPB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s