Pengolahan Kelapa


Arang Tempurung

Arang tempurung dihasilkan dari pembakaran tempurung buah kelapa yang sudah tua, dengan cara dan perlakuan tertentu. Dalam proses pembakaran jumlah udara yang dimasukkan hanya sekedar cukup untuk melaksanakan proses karbonisasi. Dengan demikian udara yang digunakan terbatas jumlahnya. Rendemen arang sekitar 30% dari berat basah tempurung yang digunakan.

Arang tempurung termasuk bahan bakar yang memiliki kalori tinggi, banyak digunakan oleh para pandai besi dan digunakan untuk peleburan emas dan perak. Kandungan karbonnya cukup tinggi arang tempurung dapat digunakan sebagai pengisi masker gas beracun.

 

Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa diperoleh dari ampas kopra. Bungkil kelapa mengandung 11% air, minyak 20%, protein 45%, karbohidrat 12 dan 5% abu. Bungkil kelapa banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Negara pengimpor bungkil kelapa terbesar adalah Belgia yang mendatangkan bungkil kelapa dari Ceylon rata-rata 24.000 ton per tahun.

 

KOPRA

Kopra adalah putih lembaga (endosperm buah kelapa yang sudah dikeringkan dengan sinar matahari ataupun panas buatan. Melalui proses pengeringan ini,diharapkan kadar air putih lembaga (endosperm) dapat diturunkan +/- 50% sekitar 5%-6%.

Proses pengolahan kopra rakyat cukup sederhana. Pengolahan kopra rakyat dilakukan oleh pabrik pengolahan kopra, dengan bahan baku berasal dari kelapa rakyat. Produktivitas kopra terbatas, dan hasil akhir yang diperoleh pada umumnya belum memenuhi kualitas standar. Adapun urutan pekerjaan yang biasa dilakukan pada pengolahan kopra rakyat adalah :

1.    Pengupasan suhu kelapa dilakukan jika kelapa yang digunakan sebagai bahan baku masih berupa kelapa utuh

2.    Pembelahan buah. Buah kelapa yang masih bertempurung di belah menjadi dua bagian dengan menggunakan golok pemukul atau kapak. Air buah kelapa di tampung atau dibiarkan mengalir ke suatu bak penampungan

3.    Pengeringan pendahuluan. Belahan yang masih ada tempurung harus segera di keringkan. Keterlambatan pengeringan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan mikro organisme (jamur) yang dapat menurunkan kualitas kopra. Pengeringan yang terbaik dilakukan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung, jika cuaca mendung dikeringkan dengan panas buatan,

4.    Pelepasan daging buah. Dilakukan dengan menggunakan pisau yang tebal

5.    Pengeringan lanjutan dilakukan dengan sinar matahari atau api sampai kopra benar-benar kering. Pengeringan dengan sinar matahari 5-9hari dan pengeringan panas buatan 4-5hari

6.    Dalam pembuatan kopra FMS (fair merchantable sundried) dikenal dua macam rumah pengeringan yaitu lade oven dan plet oven. Lade oven dilakukan dengan cara kopra masih basah disusun dalam kotak yang telah tersedia, kemudian dimasukkan kedalam ruangan yang tertutup; ke dalam ruangan ini dialirkan panas dengan suhu 40 derajat Celcius sampai 80 derajat Celcius. Sedangkan plat oven menggunakan plat besi  sebagai media pengaliran panas. Rumah pengeringan terdiri dari dapur dibuat dari batu bara, sebagai tempat pembakaran kayu atau bahan bakar lainnya. Dapur ukuran 10m lebar 3m dan tinggi 1m.

 

 

Minyak Kelapa

Minyak Kelapa adalah minyak nabati yang berasal dari daging buah kelapa tua baik dalam bentuk segar maupun daging kering (kopra). Proses untuk membuat minyak dari daging buah kelapa segar dikenal dengan proses basah (wet process), karena proses ini ditambahkan air untuk mengekstraksi.

Minyak kelapa merupakan senyawa netral, larut dalam pelarut minyak yang umumnya tidak larut dalam air. Minyak Kelapa adalah ester dari gliserol dengan berbagai asam monokarboksilat berantai lurus yang dikenal  asam lemak yang terbagi dalam asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh (Gazuini, 1993).

Menurut Buckle dkk (1984), sifat tidak larut dalam air disebabkan oleh adanya asam lemak berantai karbon panjang dan tidak adanya polar. Sedangkan maman dan Sherington (1994), minyak dan lemak tidak larut dalam air karena adanya substansi tertentu yang di mungkinkan terbentuknya campuran yang stabil antara lemak dan air.

Komponen utama penyusun minyak kelapa adalah asam lemak. Berdasarkan kandungan asam lemak, minyak kelapa di golongkan kedalam minyak asam larut karena kandungan asam larut lebih besar dibandingkan dengan asam lemak ketaren, 1986 Menurut Winarno, (1984), hidrolisis sangat mudah terjadi dalam lemak yang mengandung asam lemak rendah yaitu asam lemak dengan asam karbon kurang dari < C 14 seperti minyak kelapa. Minyak kelapa termasuk dalam golongan asam lemak rantai karbon sedang. Hidrolisis dapat menurunkan mutu/kualitas minyak. Pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara namun secara garis besar dapat dibedakan cara tradisional dan cara modern (pabrik). Beberapa cara pembuatan minyak kelapa secara tradisional antara lain:

1.    Minyak Entu
Pembuatan minyak entu di lakukan dengan cara sebagai berikut: buah kelapa yang sudah tua dikupas serabutnya, dibelah menjadi dua bagian, dan diambil daging buahnya. Daging buah tersebut kemudian di kukus sehingga masak kira-kira setengah jam, hasil pengukusan diperam suatu wadah yang tertutup rapat selama dua hari dua malam, di jemur selaam satu atau dua hari, diperas dengan menggunakan tangan atau alat pemeras lain hingga keluar minyaknya. Sisa parutan kelapa yang sudah diperas disebut entu.

2.    Minyak klentik
Pembuatan minyak klentik dilakukan dengan cara diambil daging buahnya: daging buah tersebut diparut dan diremas-remas dengan air untuk diambil santannya. Santan yang diperoleh di rebus sehingga seluruh kandungan airnya menguap, dan minyaknya berangsur-angsur timbul mengembang ke atas santan. Minyak di pisahkan dan dapat digunakan atau disimpan dalam botol yang bersih. Endapan yang terdapat di bawah minyak disebut blando atau ketis, berasa manis dan dapat digunakan sebagai lauk pauk.

3.    Minyak Bledigan
Ampas kelapa  (kelapa parut yang sudah diambil santannya) masih dapat dimanfaatkan untuk membuat minyak. Pembuatan minyak bledigan dilakukan dengan cara di injak-injak, dan dibiarkan selama beberapa bulan (3-4bulan). Bahan ini biasa gabar dan mempunyai kandungan minyak sekitar 5%. Setelah pemerahan, gabar diperas dengan alat pemeras dari kayu didapatkan bledigan.

4.    Minyak Batokan
Pembuatan minyak batokan dengan cara buah kelapa yang sudah tua di kupas kulitnya dan diambil daging buahnya : daging buah tersebut direndam dalam air selama dua hari dua malam, kemudian di parut dan diambil santannya, santan yang diperoleh direbus atau digoreng hingga keluar minyaknya, sisa santan yang berwarna kelabu selanjutnya dipres dengan menggunakan alat pemeras yang terbuat dari kayu hingga diperoleh minyak. Sisa pengepresan dinamakan ketak enak dimakan dan dapat digunakan sebagai lauk pauk.

Pembuatan minyak kelapa di pabrik dapat dilakukan beberapa cara yaitu:

1.    Kopra dicuci bersih, kemudian digiling sampai hancur. Kopra yang sudah hancur tersebut dibasahi dengan uap panas, dipanaskan dan akhirnya dipres dengan menggunakan alat hidrolisis dengan tekanan yang sangat tinggi. Dengan cara ini, dapat diperoleh rendaman minyak kelapa yang tinggi yakni sekitar 60%

2.    Kopra dicuci bersih digiling sampai hancur, dan dimasukkan kedalam mesin ekstraksi. Didalam mesin ini minyak diekstraksi dengan menggunakan bensin. Kemudian, minyak yang diperoleh didestilasi untuk memisahkan bensinnya, Dengan cara ini diperoleh rendaman minyak kelapa yang lebih tinggi sekitar 66%-70%

 

 

Minyak Kelapa Virgin (VCO)

Salah satu produk yang dikembangkan munculnya VCO yang cukup menarik perhatian sejumlah kalangan mulai dari konsumen pangan, ahli pangan, pemerintah bahkan kaum jurnalis.

Produk yang dapat dihasilkan dari daging kelapa segar adalah virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa murni. VCO merupakan salah satu minyak yang memiliki banyak manfaat dalam bidang industri maupun kesehatan. Dalam dunia industri, VCO digunakan sebagai bahan dasar kosmetik sedangkan di dunia kesehatan sebagai obat-obatan. Itulah sebabnya permintaan VCO meningkat baik didalam maupun di luar negeri.

 Minyak Kelapa Virgin (VCO) mengandung aroma khas kelapa, asam lemak bebas yang rendah (kurang dari 0,07 % sebagai asam larut), tanpa pemurnian mengandung jumlah vitamin E yang maksium dan bebas dari kontaminasi aflatoksin. VCO merupakan minyak stabil, minyak ini tidak rusak dengan adanya panas serta tahan terhadap cahaya dan udara, mempunyai titik asap 198 derajat Celcius dan mengandung vitamin E (tokoferol) yang berperan menjaga kestabilan minyak dan melindungi dari ketegikan. Sifat VCO dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun.

Adapun standar mutu VCO yang ditetapkan oleh APCC adalah sebagai berikut:

– warna                   (bening)

– asam lemak bebas   (<0,5%)

– Bilangan peroksida   (< 3 meg/kg)

– Kadar air                ( 0,015%)

– Total mikroba        ( < 10 cfu)

Minyak kelapa yang diolah dari daging kelapa segar sudah dapat disebut VCO, hanya saja kualitas hasil pengolahan tradisional kebanyakan dibawah standar mutu yang diinginkan pasar.

KOMPOSISI Kimia VCO

VCO di bentuk rantai karbon, hydrogen dan oksigen mengandung gugus karboksilat yang disebut asam lemak. Komponen asam lemak akan membentuk gliserida saat bergabung dengan gliserol. Menurut Winarno (2002) gliserida yang umumnya terdapat pada lemak minyak yaitu trigliserida. Trigliserida akan terbentuk bila tiga asam lemak beresterifikasi dengan satu molekul gliserol

MANFAAT Minyak Kelapa Virgin (VCO)

VCO memiliki banyak manfaat dalam dunia industri dan kesehatan. Dalam dunia perindustrian, VCO dapat digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. VCO dapat digunakan untuk kulit agar tetap halus, lembut serta untuk rambut agar berkilau. Susunan molekuler VCO memberikan tekstur lembut dan halus pada kulit dan rambut sehingga sekarang industri sabun, sampo, dan produk perawatan tubuh banyak menggunakan VCO.

 Dalam dunia kesehatan, VCO diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Suhirman dalam suara pembaharuan (2004) mengemukakan bahwa VCO dapat digunakan untuk melangsingkan tubuh. Minyak yang beraroma gurih ini diyakini dapat meningkatkan metabolisme tubuh, antivirus/antibakteri serta dapat menanggulangi beraneka macam penyakit, VCO mampu mengatasi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, jantung, kolesterol, osteoporosis, kanker, HIV/AIDS

Pengolahan Minyak Kelapa Virgin (VCO)

Teknologi pengolahan minyak kelapa yang dikembangkan baik meleui proses tradisional, pengolahan basah, pengolahan kering dan enzimatis. Teknologi pengolahan VCO yang berkembang di Indonesia adalah pemanasan bertahap, pemancingan minyak dan fermentasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s