Otak Sebagai Substrak Kehadiran Tuhan


Otak Sebagai Substrak Kehadiran Tuhan

 

Muhtar Sadili
Pusat Studi Alquran (PSQ) – Lentera Hati Ciputat
Menarik sekali ketika Alquran menjelaskan keberadaan otak sebagai pusat dari kehidupan manusia. Adalah Taufik Pasiak dalam bukunya yang memikat, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neorosains dan Alquran (Mizan, 2003), telah menemukan isyarat Alquran atas kulit otak sebagai pusat kepribadian dan intelektual tertinggi manusia. Bagian ini dinamakan cerebrum (otak besar), terutama daerah yang disebut lobus frontal –yang bertanggungjawab antara lain untuk membuat keputusan (judgement), bahkan fungsi-fungsi yang dikontrol otak, seperti pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan.

 

Dokter sekaligus lulusan pasca sarjana IAIN Alauddin Makasar ini, mencoba menjelaskan temuan neorosains yang relevan dengan Alquran. Sedikitnya ada empat sinyal yang menerangkan potensi dan aktualisasi fungsi otak manusia dalam Alquran.
Pertama kata nƒshiyah dalam QS al ‘Alaq <96>:15-16 untuk bagian kepala yang berperilaku ‘pendusta’ yang dialamatkan pada penentang nabi Muhammad, yang akan dihukum dengan tarikan kuat pada nƒshiyah (ubun-ubun) laiknya kuda ditarik jambulnya. Penjelasan neorosains membuktikan lobus frontal dan daerah prefrontal sebagai bertanggungjawab untuk kegiatan intelektual tingkat tinggi, kesadaran moral manusia, dan perasaan-perasaan mistik, ternyata terletak di belakang nƒshiyah (ubun-ubun) tersebut.
Tarikan atas ubun-ubun itu cukup beralasan dari segi organisasi otak, seperti kerusakan yang diakibatkan pada daerah prefrontal-nya akan membuat orang makin cerdas, tetapi dengan kepribadian yang terganggu.
Kedua, kata ‘aql dan qalb. Kata ‘aql (akal) kebanyakan berbentuk kata kerja sebagai manifestasi sebuah proses tidak henti dalam aspek sains untuk mencapai tingkat pemahamannya akan realitas rasional. ‘Aql ini separuh lebih dialamatkan pada hal-hal yang bersifat rasional dan sedikit untuk urusan rohani. Sementara kata qalb dialamatkan pada fungsi otak yang menjelaskan sisi rohaniahnya, sehingga jika dioptimalkan akan menghasilkan integrasi antara ilmu dan agama. Dan akhirnya, menjembatani ketegangan antara kebenaran (ilmiah) dan keyakinan transedensial (akan kehadiran Tuhan).
Ketiga, melalui pernyataan lugas ‘kitƒban yalqƒhu mansy–rƒ’ (sebuah kitab yang dibentangkan) dalam QS al-Isrƒ <17>:13, untuk melukiskan wahana pertanggungjawaban di akhirat nanti. Dengan mengutip penafsiran Abdullah Yusuf Ali (1999), kalimat ‘gulungan yang terbentang’ mirip dengan keberadaan kulit otak yang bergulung-gulung dalam batok kepala manusia. Satu saat bibir kita akan dikunci, tangan kita yang bicara langsung apa yang telah kita kerjakan, dan kaki yang menerangkan kemana ia telah dilangkahkan (QS Yƒsin <36>: 65). Jika kitƒb diasosiasikan mencatat, maka kulit otak yang bergulung-gulung itu mengingat melalui rekaman pada sel-sel syarafnya. Akibat yang ditimbulkan keduanya persis, yakni merekam aktifitas manusia. Karenanya, bisa jadi apa yang kita pahami tentang ‘kitab pencatat’, sesungguhnya adalah kulit otak manusia itu. Dan kitƒb itu akan berbicara sendiri!.
Keempat, adanya sinyalemen tentang pentingnya alat-alat indra yakni telinga, mata, lidah, tangan, dan kulit. Alat-alat itu disebut secara berulang-ulang untuk melukiskan aktivitas manusia di dunia. Kata mendengar bahkan disebut jauh lebih banyak daripada kata melihat untuk menunjukkan tingkat kepentingan dari kedua alat tersebut. Karena mendengar terjadi lebih dulu ketika janin dalam kandungan seorang ibu. Dengan sinyalemen itu, Alquran hendak mengingatkan kita akan keberadaan jejak yang ditinggalkan Tuhan dalam setiap ciptaan-Nya. Otak bagaikan Central Procesor Unit (CPU) dalam sebuah komputer, dapat dilihat sebagai satu bukti yang amat penting. Dengan memerhatikan fungsi-fungsi otak bagi kehidupan manusia, keberadaan Tuhan sebenarnya tidak perlu diragukan lagi. Tuhan di mana-mana, dapat dirasakan kapan dan oleh siapa pun.
Pencarian jejak tuhan
Adanya ‘rasa ber-Tuhan’ pada diri manusia itu tidak bisa disikapi sebatas mitos belaka atau gagasan-gagasan spekulatif saja. Beberapa orang karena penasaran dan atau karena motifasi ilmiah berusaha mencari Tuhan di dalam diri manusia. Kehadiran Tuhan tidak dipersepsikan sebatas ‘semangat’ dan atau potensialnya saja. Bila Alquran menilik tentang ke-hanŒf-an (kecendrungan kepada yang baik) manusia telah menunjukkan jejak Tuhan, maka ilmuwan neorosains ingin mengetahui bagaimana ke-hanŒf-an itu berada dalam otak manusia.
Adalah Vilyanur Ramachandran (2002), ahli otak yang menyebut adanya God Spot dalam otak manusia ketika melaporkan kasus ‘melihat’ Tuhan yang dialami oleh Dr Michael Persinger, neoro-psikolog dari Kanada, ketika otaknya dipasangi kabel-kabel magnetik perekam aktivitas bagian-bagian otak. Persinger, meski sekular seratus persen, tapi dengan perangsangan magnetik pada lobus temporal-nya, ia dapat ‘melihat’ Tuhan. Melihat-Nya bukan secara objektif dengan indra manusia, tapi adanya perasaan mistis yang dialaminya.
God Spot ini bertempat di bagian dahi yang didalamnya terjadi pemaknaan terhadap apa yang didengar dan apa yang dicium. Aktifitas lobus temporal ini meningkat ketika seseorang diberi nasihat-nasihat religius. Ramachandran meyakini keberadaan jalur khusus syaraf yang berhubungan dengan agama dan pengalaman religius. Rasa beragama ini melalui ”proses kimiawi”dalam jaring syaraf tertentu dan karenanya tidak bersifat kosmis, seperti keyakinan banyak para penganut tasawuf.
Ilmuan lain, Erich Fromn (1989) menuturkan tentang aktivitas khusus lobus temporal sebagai bukti bahwa beragama, memang sudah menyatu (built in) dengan manusia. Sifat religiusitas ini tidak bisa hilang, walau seseorang tidak menganut satu agama (secara formal). Meski perasaan ini bisa dialami setiap orang kapan dan dimanapun, seperti para mistis yang biasa menciptakannya. Tapi para ilmuwan telah melakukannya dengan cara yang berbeda, yakni menyentuh bagian tertentu dengan perangsangan magnetik pada otak hingga perasaan itu muncul.
Dalam model yang berbeda, belakangan populer istilah kecerdasan spiritual (Spiritual Quotien, SQ), yang ada dalam setiap individu temuan Danah Zohar dan Ian Marshal (2002). Ini melengkapi temuan dua kecerdasan sebelumnya yakni kecerdasan intelektual (Intellectual Quotien, IQ) yang diperkenalkan oleh Wilhelm Stern dan kecerdasan emosional (Emotional Quotien, EQ) yang ditemukan oleh Joseph deLoux yang kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Kecerdasan Spiritual (SQ) setingkat lebih tinggi dari kecerdasan emosional (EQ) yang mengelola perasaan pemiliknya.
Kecerdasan Spiritual atau SQ itu adalah kecerdasan yang berkaitan dengan hal-hal yang transenden. Ia melampaui kekinian dari pengalaman manusia dan merupakan bagian terdalam dan terpenting dari manusia, yang oleh ilmuan neorosains dibuktikan berbasiskan pada otak manusia. Basis itu adalah; (1) Osilasi 40 Hz, (2) Penanda Somatik, (3) Bawah Sadar Kognitif, dan (4) God Spot. Keempatnya melukiskan kesatuan kerja jaringan saraf yang menyatukan kepingan-kepingan pengalaman menjadi sesuatu yang utuh. Mereka menjadi substrak kehadiran Tuhan yang sekian lama hanya dapat ‘diraba-raba’ dengan piranti teologis.
Argumen filosofis
Kecerdasan Spiritual ini bagaikan ‘akal ilahi’ yang dipersepsikan oleh para filosof ketika menjelaskan keterkaitan Tuhan dan manusia. Filosof muslim telah meminjam konsep memancar (emanasi) dari filsafat Yunani untuk menjelaskan hubungan hubungan erat dalam proses penciptaan alam semesta. Hubungan itu diurai dengan Tuhan sebagai alam besar (makrokosmos) dan manusia sebagai alam kecil (mikrokosmos). Unitas antar keduanya merupakan hukum alam (sunnatullƒh) yang menyertai setiap penciptaan-Nya di muka bumi.
Ibnu Sina sangat jeli melihat fungsi otak manusia itu. Dengan akalnya, meski tanpa bantuan wahyu, manusia dapat tiba pada pengetahuan tentang Tuhan. Karena akal manusia merupakan bagian dari ‘akal ilahi’, maka orang yang mempunyai tingkat intelektual yang tinggi atau cerdas meniscayakan penemuan Tuhan melalui akalnya. Sepadan dengan ini, kebuntuan Einstein ketika menguraikan problematika fisik yang dianggap abstrak karena terus dia uraikan, berakhir dengan keyakinannya bahwa Tuhan itu memang ada!
Emanasi akal ini menjelaskan dua mata koin perhubungan; Tuhan dan manusia. Ilmu sejati, lanjut Ibnu Sina, adalah ilmu yang mencari pengetahuan mengenai esensi segala hal yang berkaitan dengan asal-usul ilahiahnya. Mencari ilmu sama artinya dengan mencari Tuhan, terutama pada manusia sebagai ciptaan paling sempurna Konklusi ilmiah yang bersifat nisbi berurat akar pada kecerdasan intelektual, sementara menyatunya diri dengan Tuhan –meminjam jalan Syaikh Siti Jenar–merupakan aktualisasi positif dari kerja otak manusia lewat kecerdasan spiritualnya itu.
Konsep dasar ini dapat menjelaskan mengapa otak, atau bagian tubuh mana saja dari manusia dapat mengandung ‘kehadiran’ jejak ilahi itu. Manusia adalah satu dari tingkatan alam yang ada (nas–t) disamping tingkat ciptaan lainnya yang sengaja diciptakan untuk menunjang kemuliaan penciptaan manusia. Adanya God Spot dalam otak manusia bukanlah sesuatu hal yang mustahil. Termasuk adanya kerja terpadu otak dan adanya kesadaran intrinsik otak yang dikenal dengan istilah osilasi 40 Hz.
Walhasil, fungsi dan organisasi otak ini akan membawa implikasi yang sangat besar dalam cara berfikir dan bersikap. Ini bisa jadi akan membuat sebagian orang makin rasional, tetapi lebih banyak lagi yang menjadi irrasional. Kecuali itu, akan menyadarkan kita akan potensi besar yang ada dalam otak. Tidak hanya menyangkut hubungan-hubungan sosial antar-manusia, tetapi juga hubungan-hubungan eksistensial kehadiran Tuhan. Dan Al-Qur’an telah memberikan isyarat ilmiahnya yang terhampar dalam banyak ayat-ayat-Nya itu. Wa Alllƒh bi al-shawƒb.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s