METODOLOGI HUKUM ISLAM KONTEMPORER


BAB I

1.1. Pendahuluan

            Pemikiran dan pengembangan hukum islam dalam kehidupan masyarakat sekarang sudah saatnya hukum islam dikembangkan melalui kerangka filsafat ilmu dan kerangka sosiologi hukum dengan pendekatan sejarah sosial.Karena hukum secara sosiologis merupakan refleksi tata nilai yang diyakini masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.Muatan hukum selayaknya mampu menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang,bukan hanya bersifat kekinian,melainkan juga sebagai acuan dalam mengantisipasi perkembangan sosial,ekonomi dan politik masa depan.

Ahli hukum islam mendefinisikan hukum islam dalam dua sisi,yaitu hukum islam sebagai ilmu dan hukum islam sebagai produk ilmu.Sisi terakhir ini hukum islam disebut dengan kumpulan hukum – hukum syara’ amali dari dalil-dalil rinci (Zahrah,Tanpa Tahun: 5 dan Khallaf,1968:11).Pengertian hukum islam sebagai ilmu ini mengandung unsur hukum islam sebagai ilmu.

Hukum islam sebagai ilmu dibuktikan dengan karakteristik keilmuan yaitu bahwa hukum islam dihasilkan dari akumulasi pengetahuan-pengetahuan yang tersusun melalui asas-asas tertentu,pengetahuan-pengetahuan itu terjaring dalam suatu kesatuan sistem,dan mempunyai metode-metode tertentu (Afif,1991:3-5).

Pengetahuan-pengetahuan dalam hukum islam meliputi pengetahuan tentang dalil (nas-nas),perintah dan larangan,dam lain-lain.pengetahuan-pengetahuan ini diakumulasikan melaui asas-asas tertentu sehingga tersusun baik.Asas-asas dimaksud misalnya asas tasyiri’ bertahap,sedikitnya tuntutan syara’,dan meniadakan kesulitan.

            Karakteristik selanjutnya dari hukum islam sebagai ilmu ialah adanya metode-metode tertentu dalam hukum islam.Metode-metode tersebut tertuang dalam usul al-fiqh dan qawa’id fiqhiyah yang dalam operasionalnya meliputi metode deduktif,metode induktif,metode genetika dan metode dialektika.

Dari karakteristik hukum islam sebagai ilmu diatas menunjukkan bahwa apapun yang dihasilkan hukum islam adalah produk penalaran yang berarti pula menerima konsekuensi-konsekuensinya sebagai ilmu.Konsekuensi tersebut adalah hukum islam sebagai ilmu adalah skeptis,bersedia untuk diuji dan dikaji ulang dan tidak kebal kritik (Afif,1991:5).

Dari posisi hukum islam sebagai ilmu dengan karakteristik,metode-metode dan konsekuensi-konsekuensinya seperti apa yang dimaksudkan diatas,dapat dipahami bahwa kitab-kitab fiqh yang disusun oleh para ulama fiqh,disamping masalah-masalahnya yang menyangkut masalah-masalah furu’iyah fiqhiyah juga sebagai hasil ilmu.Sedikitnya ada lima produk pemikiran hukum islam yang dikenal kaum muslimin dalam sejarah,yaitu kitab-kitab fiqh,fatwa-fatwa ulama,keputusan-keputusan pengadilan,peraturan perundang-undangan dan kompilasi hukum islam (Mudzahar,1998a:91-92,1998b:245).

Dengan demikian jelaslah bahwa hukum islam hendaklah dipahami sebagai upaya,hasil interaksi penerjamahan antara wahyu dan respon yuris muslim terhadap persoalan sosio-politik,sosio-kultural yang dihadapinya.Karena itu,jika hukum islam tersebut tidak lagi responsif terhadap berbagai persoalan umat yang muncul karena perubahan zaman,hukum islam tersebut harus direvisi,diperbaharui bahkan kalau mungkin diganti dengan hukum islam yang baru sama sekali.

 

 

1.2. Alasan

Buku ini cukup menarik karena didalam buku ini membahas metodologi hukum islam yang fokus ke dalam bahasan al-Fiqh dan metodologi ketetapan hukum islam kontemporer.Perubahan-perubahan sosial yang dihadapi kaum muslimin pada periode modern telah menimbulkan masalah serius berkaitan dengan hukum islam. Guna menunjang pemikiran dan pengembangan hukum lslam dalam kehidupan masyarakat sekarang sudah saatnya hukum lslam dikem- bangkan melalui kerangka pemikiran bahwa hukum merupakan refleksi tata nilai yang diyakini masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini berarti bahwa muatan hukum selayaknya mampu menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang, bukan hanya bersifat kekinian, melainkan juga  sebagai acuan dalam mengantisipasi perkembangan sosial, ekonomi dan politik masa depan. Pemikiran di atas menunjukkan bahwa hukum bukan sekedar norma statis yang meng- utamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang harus mampu mendinamisasikan pemikiran dan merekayasa perilaku masyarakat dalam mencapai cita- citanya.

Ilmu Usul al-Fiqh adalah disadari betul menjadi metode penting pengistimbatan/penemuan hukum islam bahkan dijadikan alat penggalian pemikiran islam.Sesungguhnya sebagai suatu fondasi kuat yang diatasnya semua disiplin ilmu-ilmu keislaman menjadi dasarnya,usul al-Fiqh tidak hanya bermanfaat bagi peradaban Islam bahkan mempunyai kontribusi untuk memperkaya kekayaan intelektual peradaban dunia secara keseluruhan.

Dan tidaklah menjadi janggal untuk dicatat dalam buku ini bahwa metode dan pemikiran analogis berkembang dalam kerangka kerja yurisprudensi Islam yang merupakan titik tolak metodologi bagi kemapanan dan konstruksi empiris,yang sudah selayaknya dipertimbangkan untuk menjadi basis peradaban kontemporer.

1.3. Identitas (Narasi)

Buku tentang metodologi hukum islam kontemporer ini ditulis oleh Taha Jabir al Alwani dan diterjemahkan oleh Yusdani. Taha Jabir al Alwani dilahirkan di Irak tahun 1354/1935,Beliau pernah menempuh pendidikan tinggi pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas al-Azhar di airo.Beliau menjelaskan dalam buku ini membahas dan membicarakan semua tentang pemikiran dan pengembangan hukum islam melalui beberapa kerangka seperti sosiologi hukum dan pendekatan filsafat sejarah sosial.Beliau juga menjelaskan karakteristik hukum islam sebagai ilmu dengan adanya beberapa metode seperti metode deduktif (penarikan kesimpulan khusus dari dalil-dalil umum),metode induktif (penarikan kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta khusus),metode genetika (penelusuran titik mangsa dalam mengetahui latar belakang suatu nas dan kualitas nas),dan metode dialektika (metode penalaran melalui pertanyaan atau pernyataan yang bersifat tesa dan anti tesis).Dan Beliau juga tak lupa membahas konsekuensi-konsekuensi hukum islam seperti hukum islam sebagai ilmu adalah skeptis,bersedia diuji dan dikaji ulang,dan tidak kebal kritik.

1.4. Fokus Buku (Point Buku)

Materi yang dibahas dalam buku ini yang dijadikan fokus buku dalam makalah ini yaitu :

a)      Usul al Fiqh : Jurisprudensi Islam

b)      Para Sahabat Pemberi Fatwa Pada Masa Nabi

c)      Legislasi Islam Sesudah Masa Sahabat

Sedikitnya ada lima bahasan dalam buku ini,penjelasan tentang kelima fokus buku ini akan diterangkan pada bab selanjutnya.

BAB II

2.1. Pembahasan

2.1.1. Usul al Fiqh : Jurisprudensi Islam

Suatu ilmu tentang sumber dan dasar metodologi dalam jurisprudensi islam (ilmu Usul al-Fiqh) didefinisikan sebagai suatu ilmu yang berisi kumpulan metode-metode pemahaman mengenai sumber dan dalil hukum islam,jika dipelajari secara seksama akan menyampaikan kepada pemahaman baik maksud peraturan syariah maupun sekurang-kurangnya asumsi yang dapat diterima pikiran berkaitan dengan sumber dan dan dalil-dalil tersebut diatas.

a)      Pokok Bahasan

Pokok bahasan atau objek pembahasan ilmu ini adalah tentang dalil-dalil yang terkandung dalam nas-nas sumber syariah,melihatnya dari segi bagaimana penetapan hukum-hukum dengan mempergunakan ijtihad,ketetapan-ketetapan hukum yang dikeluarkan (diistimbatkan) dari dalil-dalil khusus.Ilmu ini juga membahas penyelesaian terhadap nas-nas mungkin bertentangan antara satu sama lain,jika pertentangan dalil-dalil tersebut betul-betul terjadi bagaimana cara menentukan pilihan dalil yang tepat.

b)     Manfaat

Dengan mempelajari ilmu usul al-Fiqh memberikan kemampuan untuk memahami aturan-aturan syariah melalui suatu studi,terutama bagi para mujtahid yang memenuhi kualifikasi untuk melakukan ijtihad dan siapa saja yang dianggap memenuhi semua persyaratan-persyaratan dimaksud.

Manfaat yang diperoleh dari ilmu ini terutama bagi orang-orang yang tidak memenuhi kualifikasi-kualifikasi untuk melaksanakan ijtihad dalam bidang hukum adalah bahwa melalui studi mereka tentang metode-metode mazhab-mazhab hukum klasik (mazahib bentuk jamak dari bentuk tunggal mazhab) para mujtahidin (orang-orang yang melakukan ijtihad) dan alasan dan argumen di balik ketetapan-ketetapan hukum yang mereka tetapkan,orang yang mempelajari sumber dan metodologi jurisprudensi islam adalah dapat memahami berbagai mazhab pemikiran,menganalisisnya,memilih diantara interpretasi mereka dan menetapkan pilihan dan mengemukakan argumen-argumen hukum berdasarkan prinsip-prinsip yang dirumuskan oleh para mujtahid klasik.

 

c)         Ilmu Ilmu Terkait dan Basis Akademik Ilmu Usul al-Fiqh

Ilmu usul al-Fiqh merupakan suatu ilmu yang berdiri sendiri mempunyai lapangan serta objek kajian tersendiri.Ilmu ini adalah suatu ilmu berdasarkan pada prinsip-prinsip fundamental yang pasti (muqaddamat),pengetahuan yang para ahli hukum islam tidak dapat bekerja tanpa ilmu ini.Prinsip-prinsip fundamental tersebut ditarik dan terkait erat dengan berbagai disiplin lainnya :

1)      Sebagian diturunkan dari ilmu Aristotelian Logic (Ilmu Logika atau Mantiq) yang para ahli teologi-filosofis muslim (mutakallimun) menjadi biasa mendiskusikan dan mempergunakannya dalam pendahuluan-pendahuluan karya mereka.

2)      Sebagian berasal dari ilmu al-kalam (teologi skolastik) dan khususnya pembahasannya seputar persoalan seperti masalah ruang lingkup wilayah kajian jurisdiksi dari segi apakah syariah (wahyu) itu sendiri atau akal alami manusia yang dapat menentukan penilaian baik dan buruk suatu perbuatan ataukah apakah seseorang (manusia) dapat mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan sebelum adanya wahyu atau apakah kewajiban menyampaikan rasa syukur kepada sang Pencipta (Allah) merupakan kewajiban syariah atau berasal dari akal alamiah manusia.

3)      Sebagian berhubugan dengan kaidah-kaidah kebahasaan umum yang para ahli usul mengembangkannya melalui penelitian kaidah-kaidah kebahasaan dan merumuskannya dalam bentuk baku seperti pembahasan dalam kaitan dengan bahasa-bahasa dan asal-usul,klasifikasi kata-kata menjadi metaforis dan literal,pembahasan pengertian etimologi,sinonim,umum,khusus,pengertian-pengertian bagian-bagian gramatikal dan sebagainya.

4)       Sebagian berasal dari ilmu-ilmu Al quran dan ilmu-ilmu hadis yang klasik seperti pembahasan periwayatan hadis oleh seseorang sanad?atau oleh banyak perawinya yang terpercaya (tawatur),bacaan Al quran yang tidak standar dan hal-hal lain yang terkait,persyaratan dapat diterima periwayatannya (ta’dil) atau penolakan terhadap perawi (jarh) hadis,abrogasi legislasi (nasikh dan mansukh) keadaan matan hadis dan bersambungnya mata rantai sanad dan sebagainya.

 

d)        Sejarah Ringkas Perkembangan Usul al-Fiqh

Adalah sulit untuk melakukan studi usul al-Fiqh dan perkembangannya tanpa mempelajari sejarah fiqih itu sendiri,yang merupakan ajaran-ajaran praktis syariah yang ditetapkan dari sumber-sumber dalil syari’ah yang rinci.

Arti leksikal dari asl (jamak usul) dapat berarti fondasi atau basis yang atasnya sesuatu dibangun.Dalam sistem hukum islam,fiqh dibangun diatas dan bertitik tolak dari dasar-dasar usul yang merupakan sumber dali.Karena itu agar memahami perkembangan usul al-Fiqh,kita membutuhkan pemahaman terhadap prinsip-prinsip umum sejarah legislasi islam (tasyri’).

Penetapan legislasi syariah,menjelaskan hukum,yang berisi kaidah dan pengaturan,dan sistem yang jelas adalah suatu fungsi sebagai termasuk pengabdian kepada Allah SWT itu sendiri.Siapa saja yang menganggap fungsi-fungsi tersebut bukan dalam kerangka pengabdian kepada Allah dapat berarti syirik seperti halnya,seseorang itu berbuat sesuatu bertentangan dengan keimanan terhadap keesaan Allah (tauhid).

Allah telah memberikan petunjuk-Nya melalui dalil-dalil yang pasti dan sumber-sumber dalil yang jelas.Ini agar orang-orang yang beriman tidak menghadapi kesulitan dan masalah dalam menemukan jalan mereka khususnya mengenai legislasi-Nya.Dengan rujukan beberapa sumber dalil ini,umat dapat menyepakati keabsahannya dan menjadikan referensi dalam penetapan masalah hukum-hukum (ahkam) dan mereka menerimanya sebagaimana adanya.Sekalipun masih terdapat perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis-jenis lain sumber dalil diatas.

Sumber dalil yang seluruh umat menyepakatinya,dan keabsahannya adanya konsensus umum,terdiri dari dua sumber yang membentuk dasar legislasi pada masa Nabi,kedua sumber diatas adalah :

1)      Alquran : Dapat didefinisikan sebagai kata-kata yang diwahyukan kepada Nabi (SAAA-SAW),membaca Alquran bagi umat islam merupakan suatu perbuatan ibadah,surat terpendek yang menantang manusia untuk membuat hal yang serupa dengannya,setiap huruf Alquran diturunkan kepada kita melalui otoritas dengan autentisitas yang tidak diragukan lagi kebenarannya (tawatur),yang tertulis diantara dua cover Al quran yang dimulai dengan surat al-Fatihah (Surat pembukaan,surat nomor 1) dan diakhiri dengan surat an Nas (surat nomor 114).

2)      Sunnah : Mencakup segala sesuatu ,selain Alquran yang diturunkan/disandarkan berasal dari Nabi : apa yang ia katakan,apa yang dia perbuat dan apa yang dia setujui.

Dengan demikian,setiap ucapan Nabi selain Alquran, dan setiap perbuatannya ,dari permulaan masa kenabiannya sampai akhir hayatnya,merupakan sunnahnya,baik dalam bentuk kata-kata umum,baik berisi suatu aturan yang secara umum diterapkan untuk seluruh umat islam,atau aturan yang secara khusus berlaku hanya untuk Nabi sendiri atau kepada para sahabat Nabi.

Sepanjang hidup Nabi,semua kaidah hukum-hukum syariah yang mengandung berbagai klasifikasi seperti prinsip-prinsip dan darinya menderivasi aturan-aturan,ajaran-ajaran dasar keimanan,dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan ibadah khusus (ibadah mahdah) dan hukum-hukum yang diturunkan dari dua sumber,Al quran dan sunnah.

Ijtihad yang dilakukan Nabi dan para sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidang hukum (ahl al- nazar). Ijtihad nabi yang kadang-kadang dikonfirmasi Alquran dan kadang-kadang tidak; dalam kasus hukum tertentu yang diterangkan (oleh Alquran) bahwa solusi yang terbaik terhadap suatu masalah hukum adalah ijtihad ketetapan hukum yang Nabi lakukan.

Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa tahap legislasi tergantung pada dua bentuk pewahyuan :

1)      Wahyu yang terbaca (wahy matlu) : atau Alquran dengan i’jaznya.

2)      Wahyu yang tidak terbaca (wahyu goir matlu) : atau sunnah Nabi Muhammad.

Ijtihad yang dilakukan oleh Nabi merupakan preseden bagi sahabat dan kaum muslim kemudian yang mengandung penjelasan yang memberi petunjuk jelas sehubungan legitimasi ijtihad untuk para sahabat ketika mereka tidak menemukan putusan (ketentuan) hukum yang jelas dalam Alquran atau sunnah,mereka harus melakukan ijtihad agar supaya dapat menjawab persoalan-persoalan hukum yang mereka hadapi.

e)         Metode Penetapan Hukum Islam

1)      Alquran

Alquran dipelajari dan dipahami oleh para sahabat tanpa mempunyai bekal dan aturan-aturan struktur kebahasaan (formal grammar).Sebaliknya mereka dikarunia suatu pemahaman yang mendalam,pemikiran yang tajam,daya imajinasi yang kuat (common sense),mereka memahami betul tujuan-tujuan penetapan hukum dan alasan-alasan (hikmah) yang berada dibalik ketetapan-ketetapan hukum-Nya.

Sesungguhnya para sahabat jarang bertanya kepada Nabi tentang masalah-masalah hukum kalau tidak Nabi sendiri yang memulainya.Tidak pernah diceritakan bahwa seseorang sahabat yang pergi kepada Nabi menanyakan suatu masalah yang dapat ditemukan dalam Alquran.

2)      Sunnah

Bagian dari sunnah terdiri dari perkataan-perkataan Nabi yang redaksinya berasal dari bahasa sahabat itu sendiri,mereka mengetahui maknanya dan memahami susunan bahasa dan kandungan maknanya.

Sejauh perbuatan Nabi yang sudah diketahui,mereka betul-betul menyaksikannya.Kemudian menerangkan kepada sahabat lain persis seperti apa yang mereka lihat.Contoh kasus sahabat melihat Nabi melakukan Wudu dan kemudian mereka meniru perbuatan Nabi tersebut tanpa bertanya kepada Nabi secara rinci perbuatan Wudu yang bermacam-macam itu diwajibkan dan diperintahkan,diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan.Sepeti halnya mereka menyaksikan Nabi melaksanakan ibadah Hajj dan Salat,dan perbuatan-perbuatan ibadah lainnya.

Masyarakat mendengar permintaan kepada Nabi untuk memberikan Fatwa berkaitan dengan berbagai masalah dan Nabi melakukannya.Berbagai kasus diajukan kepadanya dan dia menjelaskan ketentuan hukumnya.Persoalan-persoalan yang timbul diantara para sahabat nabi dan dia memberikan jawaban yang pasti,apakah problem-problem itu berkaitan dengan hubungan timbal balik perbuatan seseorang berbagai problem-problem politik.

Mereka menyaksikan semua situasi dan mereka memahami konteks berbagai masalah yang mereka alami,untuk itu kebijaksanaan (hikmat) dan tujuan-tujuan penetapan hukum Nabi secara jelas dapat diketahui dalam penetapan-penetapan hukum Nabi tersebut.

Umat juga melihat bagaimana Nabi biasanya menjelaskan perbuatan sahabatnya dan lain-lain.Dengan demikian jika Nabi memuji seseorang,mereka mengetahui bahwa perbuatan seseorang itu baik; dan jika dia mengkritik seseorang,mereka mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu yang salah pada seseorang itu.

Disamping itu,semua berita mengenai fatwa-fatwa nabi,keputusan-keputusan,aturan-aturan dan setuju atau tidak dari berbagai masalah menunjukkan bahwa hal itu terjadi dalam  masa hidup umat.Dengan demikian,hanya sebagai kolega seorang doktor yang tahu,memiliki kedekatan yang begitu intens dan pengalaman-pengalaman,alasan-alasan dalam pemberian resep-resep obat tertentu,juga para sahabat-sahabat Nabi tahu persis alasan-alasan dibalik ketetapan-ketetapan hukum Nabi.

3)      Ijtihad

Penjelasan-penjelasan diatas mengindikasikan bahwa ijtihad adalah penting dan relevan dalam konteks menjawab persoalan-persoalan dunia kontemporer.Sebagaimana dicontohkan,Mu’az Ibn Jabal menyatakan bahwa ketika Nabi mengutusnya ke Yaman,dia (Nabi) bertanya :

“Apa yang akan engkau perbuat jika engkau dihadapkan masalah-masalah hukum?”Mu’az mengatakan : “Saya akan menetapkan hukum berdasarkan Kitabullah”.Nabi bertanya : “Jika engkau tidak mendapatkan solusinya dalam Kitabullah?”Mu’az menjawab : “Saya akan menetapkan hukum dengan sunnah Nabi”,lebih lanjut Nabi bertanya : “Jika tidak menemukannya dalam sunnah Nabi?”Mu’az menjawab : “Saya akan melakukan ijtihad dengan pendapatku sendiri.Nabi menepuk dada Mu’az dan menyatakan : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan bimbingan utusan Nabinya.”

 

Ijtihad tersebut dan bentuk pendapat seorang hakim,sebagaimana dijelaskan Mu’az adalah penjelasan lebih lanjut dari nasihat “Umar,Umar memberikan nasihat ketika dia mengangkat Abu Musa sebagai seorang hakim : “Ketetapan hukum harus didasarkan pada dasar-dasar perintah Alquran dan yang ditetapkan Sunnah Nabi.

Kemudian dia menambahkan : Yakinlah bahwa engkau memahami secara jelas setiap kasus yang dihadapkan kepadamu yang tidak terdapat nas untuk diterapkan berdasarkan baik Alquran maupun Sunnah.Pendapatmu adalah suatu peranan perbandingan dan analogi agar membedakan keserupaan agar menerapkan suatu hukumyang nampaknya lebih dekat kepada keadilan dan terbaik dalam pandangan Tuhan.

Oleh karena itu,Iman al-Syafi’i menjelaskan “pendapat” (ra’y) berarti ijtihad,dan ijtihad berarti qiyas.Dia berkata : “Dua kata (jtihad – qiyas) satu makna,”.

Dengan demikian,kita dapat mengatakan bahwa konsep ijtihad atau “pendapat” (ra’y),pada tahap ini,tidak lebih dari hal-hal berikut :

i)          Penetapan satu atau lain makna-makna yang mungkin muncul dalam suatu kalimat yang mungkin mengandung dua atau lebih penafsiran.Contoh,ketika Nabi memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan salat diantara Banu Qurayzah.

ii)        Qiyas Analogis,berhubungan dengan suatu kasus dengan mengqiyaskannya dengan kasus-kasus lain karena adanya kemiripan dengan kasus terkait dengan Alquran atau Sunnah.Contoh,qiyas Ammar yang mengqiyaskan kasus tayammum ketika dalam keadaan janabah (hadas besar) dengan gusl (mandi),dan maka dari itu ia menggulingkan seluruh badannya dengan bermandikan debu.

iii)      Ijtihad dengan cara melakukan sesuatu yang besar kemungkinan mendatangkan manfaat; atau melarang melakukan suatu perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan yang salah; atau mengambil peraturan-peraturan yang khusus yang berasal dari pernyataan-pernyataan umum; atau mengadopsi pemikiran yang spesifik.

Perluasan apa yang Nabi lakukan dengan mendorong para sahabat untuk berijtihad dan melatih mereka dalam melakukannya,hal ini dapat diperhatikan dalam sabdanya “Ketika seorang hakim melakukan ijtihad dan ijtihadnya benar,dia memperoleh dua ganjaran;dan jika ijtihadnya salah,dia akan memperoleh satu ganjaran.”

Ijtihad banyak sahabat adalah begitu tepat dalam banyak kasus yang wahyu-wahyu Alquran mengkonfirmasikannya,dan Nabi mendukungnya.Sesungguhnya,kedekatan mereka dengan nabi telah membuat imajinasi mereka tajam dalam memahami tujuan dan maksud pembuat dan penetapan hukum,maksud dan tujuan dibalik legislasi Alquran,dan memahami arti nas-nas; hasil-hasil dari ijtihad para sahabat diatas menjadi modal baik bagi orang-orang kemudian memanfaatkannya secara tidak langsung.

2.1.2. Para Sahabat Pemberi Fatwa Pada Masa Nabi

Para sahabat yang memberikan fatwa pada masa hidup Nabi adalah Abu Bakar.Usman,Ali,Abdurahman Ibn Awf,Abdullah Ibn Mas’ud,Ubay Ibn Ka’ab,Mu’az Ibn Jabal,Ammar Ibn Yasir,Huzaifah Ibn al-Yaman,Zayd Ibn Sabit,Abu al-Darda’,abu Musa al-Asy’ari dan Salman al-Farisi.

Sebagian sahabat lebih banyak memberikan fatwa dari pada yang lain.Mereka yang paling banyak memberikan fatwa adalah A’isyah,Umar Ibn al-Khatab dan puteranya Abdullah,Ali Ibn Abi Talib,Abdullah Ibn Abbas dan Zayd Ibn Sabit.Fatwa-fatwa yang diberikan oleh salah seorang dari enam tokoh ini tergolong dalam jumlah yang besar.

Mereka (sahabat) yang sedikit jumlah fatwanya adalah Ummu Salamah,Annas Ibn Malik,Abu Sa’ad al-Khudri,Abu Hurairah,Usman Ibn Affan,Abdullah Ibn Amr Ibn al-As,Abdullah Ibn al-Zubair,Abu Musa al-Asy’ari,Sa’ad Ibn Abi Waqqas,Salman al-Farisi,Jabir Ibn Abdullah,Mu’az Ibn Jabal,dan Abu Bakar al-Siddiq.Fatwa-fatwa dari tiga belas tokoh tersebut hanya berjumlah sedikit.

Dalam mempersiapkan fatwa-fatwa mereka,para sahabat biasa memperbandingkan kasus-kasus khusus yang dihadapkan kepada mereka dengan masalah-masalah ketetapan hukum yang ditetapkan sesuai nas-nas Alquran dan Sunnah.Dalam proses mengkaitkan masalah-masalah tersebut kepada sumber-sumber dimaksud,mereka mempergunakan metode penemuan makna dan hukum yang terkait melalui penelitian makna literal nas,akibat-akibatnya,dan kasus-kasus rinci lainnya terkait.

a)      Era Sahabat Besar

Sesudah masa Nabi,datang masa sahabat besar dan para khalifah yang diberi tuntunan kebenaran.Periode ini berlangsung dari 11 sampai 40 H.Para sahabat ahli penghapal (qurra’) adalah suatu istilah yang biasa dipergunakan pada massa ini untuk menyebut para sahabat yang mempunyai pemahaman yang baik terhadap fiqh dan memberikan fatwa-fatwa.

b)     Masa Abu Bakar Al-Siddiq

Maymun Ibn Marhan meringankaskan metode istimbat hukum Abu Bakar al-Siddiq sebagai berikut :

Kapan suatu persoalan yang diajukan kepadanya,Abu Bakar biasanya merujuk Alquran; jika dia menemukan dalam alquran sesuai dengan persoalan yang diajukan tersebut dia putuskan suatu ketetapan hukum berdasarkan Alquran.Jika dia tidak menemukan solusinya dalam Alquran,tetapi mencari sunnah-sunnah relevan dia memutuskan berdasarkan sunnah-sunnah itu.Jika dia tidak menemukan dalam sunnah,dia menyampaikan persoalan yang diajukan kepadanya itu kepada kaum muslimin.Menanyakan apakah salah seorang kalian mengetahui persoalan tersebut dalam sunnah yang memutuskan masalah tersebut? Jika seseorang dari mereka menemukan pemecahannya,Abu Bakar akan mengatakan segala puji bagi Allah yang telah memberikan ingatan apa yang mereka pelajari dari Nabi kami.”jika dia tidak menemukan solusi dari sunnah kemudian dia mengumpulkan para pemimpin dan pemuka masyarakat serta berkonsultasi dengan mereka.Jika mereka sepakat atas masalah diatas,kemudian Abu Bakar memutuskannya berdasarkan hasil musyawarah dimaksud.

Jika semua metode tersebt diatas gagal menghasilkan suatu keputusan,kemudian Abu Bakar melakukan ijtihad dan mempergunakan pendapatnya sendiri,baik dengan cara menginterpretasikan nas dengan suatu cara sehingga suatu ketetapan hukum dapat ditetapkan,atau berijtihad dengan ijtihadnya sendiri.

Suatu Contoh Ijtihad untuk jenis pertama adalah ketika dia ditanya tentang kalalah.Untuk merespon persoalan tersebut,Abu Bakar mengatakan : ”Pendapat saya,jika benar berasal dari Allah,dan jika keliru bersumber dari diri saya sendiri dan berasal dari syaitan (setan).Kalalah adalah seseorang yang tidak mempunyai baik orang tua maupun anak.

Suatu contoh dari ijtihad tipe kedua adalah ketika dia memutuskan bahwa ibunya ibu (nenek) bukan ibunya ayah (nenek dari ayah),menerima waris.Beberapa orang Ansar mengatakan : “Engkau membolehkan kepada seorang wanita menerima warisan dari almarhum (pewaris),sementara dia tidak menerima warisan darinya jika dia meninggal.Dan engkau tidak memberikan bagian warisan bagi perempuan tersebut dari orang yang dia peroleh waris jika keadaan sebaliknya.”Abu Bakar kemudian memutuskan bahwa kedua nenek pihak ibu dan nenek pihak ayah akan memperoleh bagian 1/6 dari harta warisan.

c)      Ciri Khas Fiqh Pada Periode Ini

i)        Penggunaan qiyas secara luas dalam berbagai kasus hukum yang tidak terdapat nas-nas Alquran dan sunnah yang terkait dengan kasus hukum yang terdapat nasnya dalam Alquran dan sunnah; dan tidak seorang sahabat pun yang berkeberatan atas penggunaan qiyas demikian.

ii)      Ijma’ juga dimanfaatkan secara luas sebagai dasar penetapan hukum.Hal ini mendukung fakta bahwa para sahabat dan dengan mudah diantara mereka sendiri melakukan ijma’.Mereka mempergunakan ijma’ dalam banyak kasus : sebagai contoh kesepakatan mereka bahwa khalifah atau imam harus ditunjuk,orang murtad harus diperangi dan dibunuh,dan orang murtad tidak dapat ditahan sebagai tawanan perang,dan Alquran harus dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf.

d)     Masa Umar Al-Khatab

Rekomendasi-rekomendasi Umar kepada qadi Syurayh,sebagaimana tersebut diatas,menjelaskan jalan yang ditempuhnya (Umar) dalam mengisitmbatkan hukum dari dalil.Kekhasan yang terkenal dari metodologi itu menunjukkan bukti bahwa dia sering berkonsultasi dengan para sahabat dan membahas masalah hukum dengan mereka untuk mencapai pemahaman yang terbaik dan menemukan jalan yang sesuai untuk menetapkan hukum-hukum.Dalam pendekatannya terhadap masalah-masalah hukum,Umar ibarat seperti seorang ahli farmasi yang sangat hati-hati yang berkesungguhan untuk memproduksi obat yang dapat mengobati penyakit yang tanpa menimbulkan pengaruh-pengaruh sampingan.

Sebagai hasilnya,Umar mewariskan suatu kekayaan yang besar dalam bidang jurisprudensi (islam).Ibrahim al-Nakha’I (w.97 H) mengatakan bahwa ketika Umar mati syahid,sembilan persepuluh ilmu pengetahuan menghilang bersama kepergiannya.Ibn Mas’ud mengatakan tentang Umar,”Jalan apapun yang ditempuh Umar,kita mudah mengikutinya.”

Pemahaman Umar sangat komprehensif dan dia mempunyai nurani yang tinggi.Dengan begitu,dia dengan cepat mampu mengkaitkan hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum,dan mampu mengikuti cabang-cabang suatu persoalan dikembalikan kepada dasar-dasar agar supaya melihat implikasi-implikasi luasnya.Hal ini dia lakukan sebagaimana dia lakukan semasa Nabi dan Abu Bakar,dan dia tidak berubah melakukan hal yang sama ketika dia sendiri menjadi khalifah.

Sebagai contoh,Umar memutuskan beberapa ketetapan hukum yang kelihatannya tidak begitu kuat karena alasan-alasan penetapannya hanya bersifat sementara.Diantara ketetapan-ketetapan yang dimaksud adalah usulannya kepada Nabi agar bahwa tawanan-tawanan perang Badar seharusnya dibunuh; pemaknaannya tentang hijab bahwa Nabi sebaiknya tidak menyampaikan kepada masyarakat (umat) bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat : “Tiada tuhan selain Allah” akan masuk surga,sekalipun mereka tidak beramal; permohonannya kepada Abu Bakar bahwa agar dia tidak akan memberikan bagian (zakat pent) dari kas negara ((Baitul Mal)pent) kepada orang-orang yang baru memeluk islam (Muallaf pent); dan keputusannya tidak memberikan harta rampasan perang yang berupa harta benda tetap kepada para tentara.

e)      Masa Usman Ibn Affan

Ketika kepercayaan diberikan kepada Usman,hal itu dilakukan berdasarkan kondisi bahwa dia akan bekerja sesuai dengan Alquran dan sunnah,dan preseden-preseden yang dilakukan dua khalifah sebelumnya.Hal ini dia berjanji akan melaksanakannya.Ali,menjelaskan bahwa jika dia menjadi khalifah dia akan berusaha berbuat berdasarkan Alquran dan sunnah,dan bekerja sebaik mungkin dengan ilmu pengetahuan yang ia miliki dan semua tenaga akan ia kerahkan.

Karena Usman menunjukkan bahwa dia dengan tegas akan melaksanakan/meneruskan kebijakan-kebijakan dua khalifah pendahulunya,dia didukung oleh Abdurrahman,yang mempunyai suatu penentu.Dengan demikkian,sumber ketiga legislasi,kebijakan-kebijakan yang dilakukan dua khalifah pendahulu,ditambahkan pada masa khalifah ketiga,dan hal ini diakui oleh dia.

Usman Ibn Affan merupakan salah seorang sahabat yang tidak menghasilkan fatwa dalam jumlah besar,berkemungkinan karena berbagai masalah hukum tersebut sudah dipecahkan oleh Abu Bakar dan Umar,dan dia lebih senang mengadopsi pendapat-pendapat pendahulunya itu.Akan tetapi dalam menghadapi beberapa kasus dia berijtihad,seperti yang para pendahulunya lakukan.Suatu ketika,sebelum Usman menjadi khalifah,Usman bertanya kepadanya mengenai suatu masalah hukum.Dalam jawabannya,Usman mengatakan “Jika engkau mengikuti pendapatmu sendiri,hal itu menjadi benar.Akan tetapi,jika engkau mengikuti pendapat khalifah sebelum engkau (Abu Bakar),hal itu lebih baik,karena dia begitu baik dalam penetapan hukum.”

f)       Masa Ali Ibn Abi Talib

Ali seperti halnya Umar Ibn al-Khatab dalam cara dia memahami dan menerapkan nas-nas alquran,dan kemampuan mendalamnya dalam mengkaitkan persoalan-persoalan khusus dengan prinsip-prinsip umum.Ali menjelaskan pengatahuannya sendiri dengan mengatakan “demi Allah,tidak satu ayat Alquran pun yang diwahyukan kecuali bahwa aku mengetahuinya ayat apa yang diwahyukan,dan dimana dan mengapa ayat itu diturunkan.Tuhan-ku memberikan kepadaku hati yang yang dapat memahami wahyu-Nya dan lidah yang dapat mengemukakan kebenaran”.

Kapanpun suatu masalah diajukan kepada Ali untuk ditetapkan hukumnya,dia akan menerimanya tanpa keraguan.Dan jika dia diminta untuk memberikan fatwa,dia akan memberikan fatwa dengan merujuk Alquran kemudian Sunnah.Ali biasa memformulasikan pendapat dirinya sendiri yang dimaksud ijtihad berdasarkan qiyas,istishab,istihsan,dan istislah,selalu mendasarkan pendapatnya pada tujuan-tujuan syari’ah.

Ketika dia berkonsultasi tentang kemungkinan menambah hukuman hadd- bagi peminum alkohol (khamar pent),dia membandingkan hukuman tersebut dengan hukuman tuduhan berbuat zina (qazaf),berdasarkan pertimbangan bahwa peminum diatas dapat mengarah kepada tuduhan demikian itu.

 

g)      Ahli Fiqh Dari Kalangan Sahabat dan Tabi’un

Periode ini dimulai pada tahun 40 H ketika periode al-Khulafa al-Rasyidun berakhir.Periode ini memulai era baru,periode fuqaha Sahabat dan Tabi’un besar.Legislasi pada periode ini masih banyak dipengaruhi tahap perkembangan terdahulu,seperti sumber-sumber hukum islam,yaitu Alquran,sunnah,ijma’ dan qiyas,meninggalkan hal yang sama.Namun demikian,legislasi pada tahap perkembangan periode ini berbeda dalam banyak segi dari periode sebelumnya.

Di antara perubahan-perubahan yang lebih menonjol adalah sebagai berikut :

1)      Tokoh-tokoh pada periode ini menjadi lebih tertarik kepada menyelidiki apa yang terkandung dalam makna-makna eksplisit dari nas-nas.

2)      Metode-metode yang berkaitan dengan sunnah mengalami perubahan besar.Secara esensi,perbedaan ini merupakan hasil/akibat dari perbedaan-perbedaan karena politik yang bersamaan dengan munculnya berbagai aliran (sekte) dan faksi-faksi filosofis,seperti syi’ah dan khawarij,yang sikap mereka terhadap sunnah berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.Aliran syi’ah menolak menerima hadis yang tidak diriwayatkan oleh kalangan mereka sendiri,dan khawarij menolak hadis yang perawi/sanadnya tidak menjadi hadis ahad.Khawarij juga menolak hadis apapun yang tidak didukung oleh nas Alquran.

3)      Mempunyai devisi-devisi yang menimbulkan ijma’tidak begitu berkemungkinan untuk diterapkan pada periode ini.Secara mendasar,hal ini terjadi karena setiap kelompok tidak mempercayai tokoh-tokoh dari aliran lainnya dan tidak mau menerima pendapat diluar pendapat mereka sendiri,apakah mereka setuju atau tidak setuju dengan mereka.

4)      Juga pada periode ini,periwayat hadis dan sunnah menjadi popular,sedangkan dalam periode sebelumnya tidak demikian.

5)      Pemalsuan hadis,dalam beberapa alasan yang sudah diketahui yang tidak perlu didiskusikan disini,tersebar luas.Dalam hubungan ini,muslim menceritakan bahwa Ibn Abbas mengatakan : “Kami bisa meriwayatkan banyak hadis dari Nabi tanpa ada kekhawatiran tentang pemalsuan.Akan tetapi ketika masyarakat mulai lalai dalam periwayatan hadis yang disandarkan kepada Nabi,kami berhenti meriwayatkan hadis”.

2.1.3. Legislasi Islam Sesudah Masa Sahabat

Masa sahabat beakhir antara tahun 90 dan 100 H dan diteruskan masa tabi’in yang para tokohnya bertugas untuk mengembangkan fiqh dan memberikan fatwa.Kemudian tokoh-tokoh yang memberikan fatwa adalah para mawali (freedman – budak yang sudah dimerdekakan tuannya),hampir seluruh mawali yang pernah hidup bersama fuqaha sahabat.

Para tabi’in jarang merubah fatwa-fatwa sahabat yang dari mereka para tabi’in memeperoleh pengetahuan,oleh karena itu sulit didapatkan perbedaan-perbedaan metode-metode yang para tabi’in pergunakan untuk mengistimbatkan hukum dari metode-metode yang dipergunakan oleh para mentor mereka.

Diantara karakteristik legislasi yang menonjol pada periode ini adalah timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat para ahli-ahli hukum dalam berbagai masalah.Hal ini sebagaimana ditegaskan atas dua permintaan yang dikemukakan oleh khalifah ketika itu Umar bin Abdul Aziz.

1)      Dia meminta bahwa semua perbuatan (kebiasaan pent) yang disandarkan kepada Nabi S.A.W hendaklah dihimpun dan dibukukan.Oleh karena itu,penduduk setiap tempat membukukan apa saja yang mereka ketahui untuk menjadi suatu bagian dari sunnah.

2)      Dia membatasi wewenang untuk memberikan fatwa di semua wilayah dengan menunjuk individu-individu seperti yang dia lakukan di Mesir,ketika dia menunjuk tiga orang untuk hal itu.Suatu hal yang menarik dalam kaitan ini dua dari mereka diatas adalah budak yang sudah dimerdekakan oleh majikannya,yaitu Yazid IbnAbi Habib dan Abdullah Ibn Abi Ja’far dan ketiga adalah seorang Arab,Ja’far Ibn Rab’ah.Ketika khalifah ditanya mengenai penunjukkan dua budak yang sudah dimerdekakan dan hanya satu orang Arab,Khalifah menjawab : “Apa salahnya hal tersebut bagi saya sementara mereka berupaya meningkatkan kemampuan diri mereka sendiri sedangkan anda tidak melakukannya?”

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Abu Bakar Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm al-Ansari,Khalifah menjelaskan alasan-alasan permintaannya bahwa perbuatan-perbuatan yang disandarkan kepada Nabi hendaknya dibukukan.

a)      Sesudah Masa Tabi’un : Masa Para Imam Ijtihad

Periode ini sebagaimana digambarkanWaliyullah al-Dahlawi sebagai berikut :

Para fuqaha periode ini menggunakan hadis nabi,hasil ketetapan-ketetapan para hakim awal dan para ahli hukum sahabat,Tabi’un dan generasi ketiga dan selanjutnya mereka menghasilkan ijtihad mereka sendiri.

Pada prinsipnya,semua ahli hukum tersebut menerima baik hadis musnad maupun hadis mursal.Namun demikian hal tersebut pada prakteknya mereka mengutip pendapat-pendapat sahabat dan tabi’un sebagai dalil.Secara esensial,ada dua alasan dalam kaitan ini :

1)      Pendapat-pendapat tersebut pada kenyataannya merupakan hadis nabi yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau tabi’un yang khawatir salah kutip,tidak berani menyandarkan pendapat-pendapat tersebut kepada nabi.

2)      Sedangkan kemungkinan lain adalah bahwa pendapat-pendapat tersebut diturunkan oleh sahabat dari nas-nas hadis dan merupakan hasil pemahaman para sahabat terhadap sunnah nabi.

Dalam hal ini sudah tentu para sahabat lebih baik dari orang-orang sesudah mereka karena mereka telah mengenal nabi dan mereka dengan demikian lebih mempunyai kemampuan memahami apa yang ia sabdakan.Oleh karena itu ketetapan-ketetapan hukum dan pendapat-pendapat mereka diterima karena mempunyai otoritas,kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang mereka sendiri berbeda pendapat atau dimana penuturan-penuturan mereka bertentangan secara jelas dengan bunyi hadis nabi.

Manakala penuturan para sahabat dan tabi’un berbeda dalam berbagai hal kemudian setiap faqih mengikuti aturan-aturan tersebut dari para ahli yang satu wilayah dengan masing-masing faqih dan para gurunya karena dia lebih dapat melihat keautentikannya memiliki kepopuleran dengan para sanadnya,pendapat-pendapat dan perkataan-perkataan yang sampai kepadanya sesuai dengan otoritasnya.Demikianlah pula halnya faqih lebih memperkenalkan hukum mereka.

Jika anda betul-betul ingin mengetahui kebenaran tentang apa yang kami katakan,kemudian ringkaslah ajaran-ajaran Ibrahim dan para serdadu sebagaimana terekam dalam buku-buku.Sudah diketahui bahwa terdapat berbagai pendekatan terhadap fiqh dan setiap imam mempunyai pendekatan yang berbeda terhadap bidang ini.Bukanlah hal yang sederhana untuk menegaskan bahwa pendekatan-pendekatan berasal para sahabat dan tabi’un.

b)     Aliran Rasionalis (Ahl Al-Ra’y) dan Tradisionalis (Ahl Al-Hadis)

Berkemungkinan kebenaran tersebut semua akan lebih dapat dipertanggung jawabkan secara meyakinkan ketika kita menjelaskan kemunculan dua mazhab pemikir hukum ,kalangan rasionalis ahl al-ra’y (ra’y secara bahasa berarti pendapat) dan tradisionalis ahl al-hadis dan timbulnya perbedaan-perbedaan diantara mereka mengenai sumber metodologi dan permasalahan kasus-kasus hukum.

Sementara itu sesungguhnya kedua mazhab ini mempunyai akar-akar pendekatan-pendekatan dengan dua generasi sebelum mereka,yang muncul padaperiode ini adalah perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah fiqh menjadi jelas dan hal demikian muncul pada masa kini karena masyarakat mulai cenderung mengelompokkan diri mereka terhadap perbedaan-perbedaan mendasar dalam mengistimbatkan hukum dari sumber-sumbernya.

2.2. Kesimpulan

Kesimpulan dalam buku ini membahas semua metode-metode hukum islam kontemporer dan yang menjadi sumber penetapan hukum islamnya yaitu Alquran,Sunnah,Ijma’,dan Qiyas.Jika hukum yang berdasarkan alquran tidak menemukan solusinya maka diambillah keputusan berdasarkan dari Sunnah.Jika dalam keputusan yang berdasarkan dari Sunnah masih belum menemukan keputusan yang tepat maka diambillah keputusan melalui ijtihad yang merupakan hukum yang diputuskan berdasarkan pendapat sendiri namun diyakini pendapat tersebut adalah benar.

 

 

 

BAB III

3. ANALISIS

Usul al-Fiqh adalah suatu ilmu yang membahas tentang dalil-dalil yang berasal dari nas-nas sumber syari’ah.Jika usul al-Fiqh dilihat dari segi penetapan hukum islam dengan menggunakan ijtihad,ketetapan hukum yang dapat diistimbatkan dari dalil yang bersifat khusus.

Manfaat yang diperoleh setelah mempelajari ilmu usul al-Fiqh terutama bagi yang tidak termasuk dalam kualifikasi yang berijtihad adalah bahwa mereka memahami jika melalui studi tentang metode-metode mazhab hukum klasik para mujtahidin (orang yang berijtihad).Dan bagi mujtahidin setelah memepelajari usul al-fiqh adalah bahwa ilmu ini memberikan kemampuan pemahaman aturan-aturan syaria’ah melalui suatu studi.

Ilmu usul al-Fiqh merupakan ilmu yang berdiri sendiri dan mempunyai lapangan kajian tersendiri.Dan ilmu ini berdasarkan prinsip fundamental yang pasti (muqaddamat).Prinsip-prinsip fundamental itu dapat ditarik dan terkait pada disisplin lain seperti :

1)      Sebagian ilmu ini diturunkan dari ilmu Aristotelian Logic (Ilmu Logika atau Mantiq)

2)      Sebagian ilmu ini berasal dari ilmu al-kalam (teologi skolastik) dan khususnya pembahasannya seputar persoalan seperti masalah ruang lingkup wilayah kajian jurisdiksi.

3)      Sebagian ilmu ini berhubugan dengan kaidah-kaidah kebahasaan umum yang dikembangkan oleh para ahli usul melalui penelitian kaidah-kaidah kebahasaan dan merumuskannya dalam bentuk baku.

4)       Sebagian ilmu ini berasal dari ilmu-ilmu Al quran dan ilmu-ilmu hadis yang klasik seperti pembahasan periwayatan hadis.

Usul al-Fiqh merupakan ajaran yang praktis syari’ah yang telah ditetapkan dari sumber dalil syari’ah yang rinci.Dalam sistem islam fiqih dibangun atas dan bertitik tolak dari dasar-dasar usul yang merupakan sumber dalil.Untuk dapat memahami perkembangan usul al-Fiqh kita harus bisa memahami prinsip-prinsip umum sejarah legislasi islam (tasyri’).Pada penetapan legislasi syari’ah bahwa hukum yang berisi kaidah dan pengaturan yang jelas sistemnya adalah suatu fungsi pengabdian kepada Allah SWT.

Sumber dalil yang membentuk dasar legislasi pada masa nabi yaitu Alquran dan Sunnah.Sunnah merupakan segala sesuatu selain dari Alquran,yang diturunkan dari Nabi.Berarti setiap ucapan dan perbuatan Nabi merupakan Sunnahnya membentuk aturan secara umum yang diterapkan untuk seluruh umat islam.

Ijtihad yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat terkadang dikonfirmasi oleh Alquran dan terkadang juga tidak kareana dalam kasus hukum tertentu yang dijelaskan dalam Alquran bahwa solusi yang terbaik terhadap masalah hukum adalah ijtihad ketetapan hukum yang telah Nabi lakukan.

Ijtihad yang telah dilakukan tersebut muncul sebagai upaya dalam merespon situasi persoalan yang nyata dalam kehidupan manusia.Jika para sahabat bertemu dengan Nabi,mereka menjelaskan apa yang telah mereka putuskan,terkadang Nabi membenarkan ijtihad itu dan keputusan mereka setelah memperoleh persetujuan Nabi merupakan bagian dari Sunnah.dan jika Nabi menolak ijtihad itu,penjelasan tentang prosedur ijtihad yang benar menjadi sunnah dan dijadikan pedoman.

Jelaslah berarti tahapan legislasi tergantung pada dua bentuk pewahyuan seperti wahyu yang terbaca (wahyu matlu) yang terdiri dari Alquran dan i’jaznya,dan wahyu yang tidak terbaca(wahyu goir matlu) yang didalamnya adalah Sunnah Nabi Muhammad.Ijtihad Nabi merupakan preseden bagi para sahabat dan kaum muslimin yang terkandung didalamnya penjelasan sehubungan legitimasi ijtihad untuk para sahabat saat mereka tidak menemukan keputusan ketetapan hukum yang jelas dalam Alquran dan Sunnah.

Metode penetapan hukum islam diambil dari sumber yang telah disepakati oleh seluruh umat muslimin yaitu Alquran,Sunnah dan ijtihad.Alquran dipelajari dan dipahami para sahabat tanpa mempunyai bekal dan aturan struktur kebahasaan melainkan mereka dikaurunia suatu pemahaman yang dalam dan pemikiran yang tajam dan memahami tujuan penetapan hukum serta alasan (hikmah) yang berada dibalik hukum-Nya.Sunnah merupakan perkataan-perkataan Nabi yang dijelaskan para sahabat dengan bahasa mereka sendiri karena mereka mengetahui makna dan memahami susunan bahasa dan kandungan maknanya.Ijtihad merupakan hal penting dalam menjawab persoalan dunia kontemporer.Ijtihad merupakan suatu ketetapan hukum yang berasal dari pendapat sendiri ketika dalam suatu masalah tidak menemukan solusi dari dalam Alquran dan Sunnahnya.

Ciri khas Fiqh pada masa periode ini yaitu penggunaan qiyas secara luas dalam berbagai kasus hukum yang tak terdapat dalam nas-nas Alquran dan Sunnah,dan ijma’ juga dimanfaatkan secara luas sebagai dasar penetapan hukum.

Setelah mempelajari usul al-Fiqh pada masa nabi,disini juga membahas ketetapan hukum islam pada masa sahabat besar Nabi dan khalifah yang telah diberi tuntunan kebenaran.Pada periode ini berlangsung dari tahun 11 sampai 40 H.Pada masa ini terdapat para ahli penghapal atau yang biasa disebut qurra’ karena mereka memiliki pemahaman yang baik terhadapap fiqh dan memberikan fatwa-fatwa.

Pada masa Abu Bakar al-Siddiq yang selalu merujuk ke dalam Alquran dalam memutuskan masalah ersoalan yang dutjukan kepadanya.Namun jika dia tak menemukan solusi dalam Alquran,dia merujuk ke dalam Sunnah-sunnah yang relevan agar bisa diputuskan masalah tersebut.Dan jika masih belum terselesaikan maka dia bertanya kepada kaum muslimin yang mengetahui persoalan yang akan dipecahkan.Jika dia tak menemukan solusi dalam sunnah,dia mengumpulkan para pemimpin dan pemuka masyarakat dan berkumpul untuk berdiskusi untuk memutuskan masalah tersebut jika sudah disepakati sebelumnya dalam musyawarah tersebut.Namun jika semua metode itu gagal diselesaikan maka dia melakukan ijtihad dan menggunakan ketetapan hukum sesuai pendapatnya sendiri.

Pada masa Umar al-Khatab yang menempuh jalan yang mengisitimbatkan hukum dari dalil.Pemahaman Umar sangatlah komprehensif dan dia memiliki nurani yang tinggi sehingga dia dapat dengan cepat mampu mengkaitkan hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum.Umar mampu memutuskan kasus hukum dengan memberikan usulan kepada Nabi agar para tawanan perang badar seharusnya dibunuh dengan pemaknaan tentang hijab bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat “tiada Tuhan selain Allah” akan masuk surga sekalipun tidak pernah beramal.Dan permohonan dia kepada Abu Bakar agar tidak memberikan bagian (zakat) dari kas negara (Baitul Mal) kepada muallaf yang bru memeluk islam,dan keputusannya tidak memberikan harta rampasan perang yang berupa harta benda tetap kepada para tentara.

Pada masa Usman Ibn Affan yang telah diberikan kepercayaan,dia melakukannya berdasarkan kondisi bahwa dia akan bekerja sesuai dengan Alquran dan sunnah,dan preseden-preseden yang dilakukan khalifah sebelumnya.Dan dia berjanji akan melaksanakannya.Dia merupakan sahabat yang tidak menghasilkan fatwa dalam jumlah besar namun dia senang mengadopsi pendapat-pendapat pendahulunya.Dia melakukan ijtihadnya sendiri saat dia melakukan ibadah haji,dia memutuskan untuk tidak solat qasar di Mina meskipun hal tersebut pasti diperbolehkan.

Pada masa Ali Ibn Abi Talib,dia juga dalam menjalankan ketetapan hukum islam sama halnya seperti Umar Ibn al-Khatab yang memahami dan menerapkan nas-nas Alquran dan kemampuan yang tinggi dalam mengkaitkan persoalan khusus dengan prinsip umum.Pada suatu kasus yang dia dengar dari seorang perempuan yang suaminya hilang dalam ekspedisi militer,dia (Ali) memutuskan untuk mengirimkan pesuruh kepadanya dan menyatakan bahwa dia (perempuan itu) tidak boleh menerima orang yang tidak dikenali selama suaminya tidak ada dirumah.

Setelah membaca lebih lanjut bahwa legislasi pada periode fuqaha sahabat dan tabi’un besar masih banyak dipengaruhi tahap perkembangan terdahulu seperti sumber hukum islam seperti Alquran,Sunnah,ijma’ dan qiyas.Dan mengalami perubahan-perubahan yang sangay menonjol. Di antara perubahan-perubahan yang lebih menonjol adalah sebagai berikut :

1)      Tokoh-tokoh pada periode ini menjadi lebih tertarik kepada menyelidiki apa yang terkandung dalam makna-makna eksplisit dari nas-nas.

2)      Metode-metode yang berkaitan dengan sunnah mengalami perubahan besar.

3)      Mempunyai devisi-devisi yang menimbulkan ijma’tidak begitu berkemungkinan untuk diterapkan pada periode ini.

4)       Juga pada periode ini,periwayat hadis dan sunnah menjadi popular,sedangkan dalam periode sebelumnya tidak demikian.

5)      Pemalsuan hadis,dalam beberapa alasan yang sudah diketahui yang tidak perlu didiskusikan disini,tersebar luas.

Masa sahabat beakhir antara tahun 90 dan 100 H dan diteruskan masa tabi’in yang para tokohnya bertugas untuk mengembangkan fiqh dan memberikan fatwa.Kemudian tokoh-tokoh yang memberikan fatwa adalah para mawali (freedman – budak yang sudah dimerdekakan tuannya),hampir seluruh mawali yang pernah hidup bersama fuqaha sahabat. Diantara karakteristik legislasi yang menonjol pada periode ini adalah timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat para ahli-ahli hukum dalam berbagai masalah.Hal ini sebagaimana ditegaskan atas dua permintaan yang dikemukakan oleh khalifah ketika itu Umar bin Abdul Aziz.

1)      Dia meminta bahwa semua perbuatan (kebiasaan pent) yang disandarkan kepada Nabi S.A.W hendaklah dihimpun dan dibukukan.Oleh karena itu,penduduk setiap tempat membukukan apa saja yang mereka ketahui untuk menjadi suatu bagian dari sunnah.

2)      Dia membatasi wewenang untuk memberikan fatwa di semua wilayah dengan menunjuk individu-individu seperti yang dia lakukan di Mesir,ketika dia menunjuk tiga orang untuk hal itu.Suatu hal yang menarik dalam kaitan ini dua dari mereka diatas adalah budak yang sudah dimerdekakan oleh majikannya,yaitu Yazid IbnAbi Habib dan Abdullah Ibn Abi Ja’far dan ketiga adalah seorang Arab,Ja’far Ibn Rab’ah.Ketika khalifah ditanya mengenai penunjukkan dua budak yang sudah dimerdekakan dan hanya satu orang Arab,Khalifah menjawab : “Apa salahnya hal tersebut bagi saya sementara mereka berupaya meningkatkan kemampuan diri mereka sendiri sedangkan anda tidak melakukannya?”

Pada masa tabi’un,pada prinsipnya,semua ahli hukum menerima baik hadis musnad maupun hadis mursal.Namun pada prakteknya mereka masih mengutip pendapat-pendapat sahabat dan tabi’un sebagai dalil.Secara esensial,ada dua alasan dalam kaitan ini :

1)      Pendapat-pendapat tersebut pada kenyataannya merupakan hadis nabi yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau tabi’un yang khawatir salah kutip,tidak berani menyandarkan pendapat-pendapat tersebut kepada nabi.

2)      Sedangkan kemungkinan lain adalah bahwa pendapat-pendapat tersebut diturunkan oleh sahabat dari nas-nas hadis dan merupakan hasil pemahaman para sahabat terhadap sunnah nabi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s