Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng


Kelayakan Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng

Kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin A, zat besi dan iodium masih menjadi masalah di Indonesia. Pemberian kapsul vitamin A dan zat besi di Posyandu bagi balita dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Cara lain yang ekonomis, praktis, dan efektif yang dapat dilakukan adalah dengan fortifikasi.

Alternatif dilakukannya fortifikasi dikarenakan masalah defisiensi zat gizi mikro yang masih banyak di Indonesia. “kebutuhan akan energi dan protein saja baru terpenuhi 70-80%, apalagi pemenuhan zat gizi mikro seperti zat besi, iodium, vitamin A, asam folat, dan vitamin B misalnya yang baru terpenuhi 10-16%”, jelas Dr.Dahrul Syah Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB. Sedangkan menurut Dr. Drajat Martianto dari Departemen Gizi Masyarakat IPB yang juga hadir dalam diskusi, masyarakat Indonesia pada umumnya masih kekurangan vitamin A, terutama diderita oleh banyak Balita. Vitamin A banyak terdapat pada makanan-makanan yang harganya mahal seperti pada daging, susu, dan seafood yang kurang dapat dijangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Meskipun vitamin A ada pada buah dan sayuran, tetapi jumlah yang dikonsumsinya harus banyak. Beberapa solusi yang dapat yang dapat dilakukan untuk penanggulangan kekurangan vitamin A adalah diversifikasi pangan, suplementasi vitamin A dosis tinggi dan fortifikasi pangan. Pemberian suplemen atau kapsul vitamin A masih tergolong mahal bagi masyarakat, salah satu solusi yang dapat digunakan adalah fortifikasi vitamin A. permasalahannya adalah mencari ‘vehicle’ atau kendaraan yang tepat untuk difortifikasi. Kandidat bahan pangan yang dapat digunakan untuk fortifikasi saat ini adalah minyak goreng.

Beberapa alasan yang diutarakan  oleh Drajat yang membuat minyak goreng potensial sebagai kendaraan fortifikasi vitamin A adalah karena minyak goreng merupakan komoditas kedua setelah beras yang dikonsumsi oleh lebih dari 90% penduduk, konsumsi minyak goreng per kapita yang mencapai lebih ndari 23 gram (lebih dari 10 gram jumlah minimum utnuk fortifikasi), rumah tangga rata-rata menggunakan 1-3 kali minyak goreng utnuk penggorengan stabilitas vitamin A selama penyimpanan dan penggorengan juga telah teruji (retensi selama penggorengan tinggi), dan dibuktikan dengan berbagai penelitian bahwa konsumsi minyak goreng berfortifikasi vitamin A terbukti mampu meningkatkan status vitamin A anak usia sekolah.

 

Dalam kesempatan ini juga Dr. Nuri Andarwulan dari Seafast IPB, mencoba melihat peluang red palm (minyak sawit merah) untuk penanggulangan kekurangan vitamin A. Red Palm Oil (RPO) mengandung 400-800 ppm karoten, yang artinya potensi vitamin A-nya 3 kali lebih tinggi dari butter. Kendalanya adalah bau dan rasa dari RPO yang kurang menarik, tetapi lain jika RPO (sebanyak 6-12%) dicampur dengan minyak goreng. Hasilnya campuran tersebut tidak memberikan warna merah pada minyak dan rasanya dapat diterima. Proses produksi RPO akan menghasilkan RPO induk yang nantinya akan dicampurkan dengan cooking oil.

Tambahan Vitamin A Dalam Minyak Goreng

Di Indonesia, kekurangan vitamin A masih jadi masalah. Data menunjukkan sekitar sembilan juta balita dan satu juta perempuan Indonesia yang kekurangan vitamin ini. Vitamin A sebetulnya banyak terdapat dalam makanan di sekitar kita. “Sumber vitamin A terdapat pada makanan seperti wortel, telur, susu, daging ayam, sayuran hijau, ubi, bayam, brokoli, mangga, tomat,” cetus Profesor Soekirman, Ketua Koalisi Fortifikasi (KFI) di dalam sebuah diskusi klinis di Utan Kayu, Jakarta (19/9).

Namun demikian berbagai kasus kekurangan vitamin A masih terjadi. Soekirman mengatakan, masih ada 30 juta balita dan anak-anak yang tidak mampu mendapat vitamin A dari sumber-sumber itu, terutama sumber hewani.

Tahun ini, pemerintah telah merintis program untuk menambahkan (atau fortifikasi) vitamin A ke dalam minyak goreng. Pertimbangan salah satunya, minyak goreng termasuk produk pangan yang rata-rata dikonsumsi rumah tangga Indonesia.

“Fortifikasi vitamin A pada minyak goreng dijamin aman,” ungkap Soekirman. Minyak goreng yang telah difortifikasi tersebut pun tidak memiliki perbedaan rasa atau secara fisik. Minyak goreng yang ditambahkan adalah minyak goreng dari kelapa sawit, yang nutrisinya banyak terbuang saat proses penjernihan.

Dampak jelas dari kekurangan vitamin A adalah kebutaan. Ahli gizi KFI Virginia Kadarsan, menerangkan, “Vitamin A sangat penting. Selain mencegah kebutaan, juga menjaga kekuatan dan kekebalan tubuh, dan sebagai antioksidan. Fortifikasi merupakan upaya meningkatkan mutu gizi bahan makanan dengan menambah satu atau lebih gizi mikro.”

Fortifikasi Vitamin A pada minyak Goreng

Ketua Forum Kajian Pangan TELISIK HIMITEPA IPB. Target dari badan kesehatan dunia WHO (2010) yaitu bebas KVA dan kekurangan yodium pada penghujung tahun 2015 memicu dan memacu pemerintah, akademisi, industri dan masyarakat komunitas untuk pemenuhan standar Indonesia bebas KVA dan GAKY. Berbagai upaya seperti pemberian kapsul vitamin A dan penerapan pola makan sehat telah dilakukan secara konsisten sampai akhir tahun 2010. Akan tetapi hasil tersebut belum menyentuh target yaitu penderita subklinis. Sebuah gebrakan yang digarap oleh pemerintah adalah penerapan teknologi fortifikasi yaitu penambahan zat gizi mikro pada bahan pangan pembawa untuk memenuhi asupan gizi. Masalah vitamin A adalah masalah yang urgen dan harus segera diselesaikan. Fortifikasi vitamin A adalah jawabannya. Karena teknologinya sederhana dan memberikan efek yang nyata.

Efektifkah?

Masalah defisiensi vitamin A yang banyak terjadi cenderung menimpa masyarakat menengah ke bawah. Pada golongan masyarakat ini, asupan makanan yang masuk biasanya kurang beragam dan hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat, namun kurang memberi kontribusi pada kecukupan mikronutrien yang tidak kalah penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima. Adanya fortifikasi diharapkan dapat menjadi solusi untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan vitamin A pada seluruh lapisan masyarakat. Namun salah satu hal yang perlu dikritisi dari kebijakan ini adalah implementasinya yang diterapkan pada minyak goreng bermerk. Oleh karena itu satu pertanyaan yang muncul dan menjadi polemik adalah seberapa efektif kebijakan ini mempu menurunkan angka defisiensi vitamin A?
Salah satu alasan yang dikemukakan adalah peredaran minyak curah sulit untuk dikontrol, dan kemasan serta penyimpanannya masih kurang memadai. Padahal seperti telah disebutkan di atas bahwa vitamin A tidak tahan terhadap cahaya dan mudah rusak bila terekspos cahaya terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, fortifikasi belum diterapkan untuk minyak curah. Namun keadaan belakangan ini justru menunjukkan kenaikan penjualan minyak kemasan karena adanya kenaikan harga minyak curah yang membuat konsumen beralih ke minyak goreng kemasan.

Yang usang jangan dibuang

Pilihan fortikikasi vitamin A masih menjadi polemik dari sisi efisiensi teknologi. Menurut pakar pangan Prof. Dr. Fransiska Z Rungkat kecukupan vitamin A dapat diusahakan dari beta karoten pada sumber minyak goreng. Akan tetapi saat ini ada sebuah kerisauan besar tentang nasib provitamin A dalam minyak sawit yang sampai sekarang masih dirusak pada saat pembuatan minyak goreng. Kronologisnya adalah minyak sawit merah sebagai sumber alami vitamin A. Indonesia adalah negara tropis dianugerahi tanaman sawit yang ajaib. Tanaman ini tidak hanya menghasilkan minyak makan yang banyak sekali tetap juga karotenoid provitamin A yang sangat banyak juga, hanya bisa disaingi oleh minyak buah merah yang harganya sangat mahal dengan khasiat yang sama dengan minyak sawit (CPO). Masalahnya adalah, dalam proses pembuatan minyak goreng, karotenoid provitamin A minyak sawit dihancurkan semua. Dalam usus kita, karotenoid diubah menjadi vitamin A (retinol), yang sangat penting untuk menjaga penglihatan dan kesehatan secara umum. Kadar karotenoid dalam minyak sawit 500 ppm (mg/kg). Jumlah provitamin A dalam minyak sawit yang dirusak di Indonesia yang sekarang ini berproduksi 19.2 juta ton sebesar: 19.2 juta ton x 500 mg/kg = 9600 ton ditahun 2009 saja. Pengrusakan ini sudah dimulai semenjak minyak kelapa diganti dengan minyak sawit untuk menggoreng. Provitamin A yang dirusak tahun 2009 saja sebesar 9600 ton cukup untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin A anak-anak sebanyak 66 000 000 000 orang per tahun atau 30 000 000 000 orang dewasa per tahun. (ada berapa jumlah manusia di bumi ya?). kebutuhan anak-anak dan orang dewasa akan vitamin A sebesar 400 dan 900 mg/orang /hari. Masalah lainnya adalah, akan diwajibkan untuk menambahkan vitamin A dalam minyak goreng, untuk tujuan mengatasi kekurangan vitamin A di masyarakat Indonesia. Hal ini sangatlah tidak wajar dari beberapa segi: Pertama, provitamin A alami yang amat banyak dirusak lalu ditambahkan lagi dengan dengan vitamin A sintetik yang harus kita impor. Kedua, jika tanaman menghasilkan karotenoid yang banyak, pastilah ia menggunakan zat-zat hara yang banyak pula. Jika manfaatnya tidak digunakan, akan sia-sia dan kesetimbangan alam akan terganggu.

Sinegisitas

Untuk masalah urgensi, fortifikasi vitamin A pada minyak goreng dimungkinkan untuk dilakukan asal pengemasan sesuai standard an penggunaannya tidak lebih dari 3 kali pemakaian serta telah ada nilai RDA. Akan tetapi riset dan pengembangan produk diversifikasi minyak sawit menjadi produk added value sumber vitamin A. Misalnya untuk membuat minyak sawit merah yang kasiatnya sama dengan minyak buah merah yang harganya Rp500.000 /kg. Minyak sawit merah dijual dengan harga Rp7000/lt. Singkatnya: satu sendok makan per keluarga setiap hari atau setengah sendok teh per orang per hari dengan harga Rp 15 cukup untuk mengatasi kekurangan vitamin A dan vitamin E di Indonesia. Fortifikasi vitamin A bukanlah tujuan akhir tapi masyarakat bebas Kekurangan vitamin A adalah puncaknya. Urgensi memang menunut suatu hal yang praktis dan efisien, akan tetapi juga tidak boleh menomorduakan potensi alam yang telah diberikan Tuhan pada manusia.

Rancangan SNI Fortifikasi Minyak Goreng Dikirim

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengirimkan rancangan standar nasional Indonesia (SNI) penambahan (fortifikasi) vitamin A untuk minyak goreng (migor) kepada badan standarisasi nasional (BSN) pada pekan ini.

Panitia Penyusunan SNI Kemenperin Djoko Setyono mengatakan, keputusan tentang SNI ditargetkan bisa keluar pada tahun ini. Menurut Djoko, SNI yang baru tersebut masih tetap mengacu pada SNI Wajib yang sudah ada untuk produk migor. Fortifikasi vitamin A pada produk migor diharapkan bisa meningkatkan gizi masyarakat serta mendorong diversifikasi produk minyak goreng sawit.

Djoko menjelaskan, peraturan SNI baru memang akan berimplikasi pada penambahan biaya yang harus dikeluarkan oleh para produsen migor. Jadi, kata dia, harga produk yang harus dibayar oleh konsumen akan menjadi lebih mahal. Pasalnya, tutur Djoko, bahan vitamin A masih diimpor oleh Indonesia.

Sementara itu, Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia Soekirman mengatakan, pemberlakuan SNI baru belum disepakati oleh kalangan industri terkait. Rancangan SNI yang akan dikirimkan oleh Kemenperin akan dievaluasi oleh semua pihak sebelum akhirnya diberlakukan.

Soekirman menuturkan, hal yang paling penting dilakukan pada saat ini adalah memperhatikan kualitas migor yang dijual di pasar. Soekirman menuturkan, migor yang diproduksi oleh industri dalam negeri sebetulnya sudah mengandung betakaroten atau pro vitamin A yang ketika dimasak, maka otomatis akan berubah menjadi vitamin A.

“Tapi migor merah tidak laku. Konsumen maunya yang jernih. Akibatnya, produsen menjalankan proses penjernihan yang menghilangkan kandungan betakaroten,” tutur Soekirman di Jakarta, Rabu (16/3/2011).

Namun, Soekirman membantah apabila proses fortifikasi vitamin A pada migor dikatakan membutuhkan biaya yang besar. Bahkan, kata dia, fortifikasi itu tidak akan mempengaruhi harga produk yang dijual ke konsumen. Pasalnya, ujar dia, fortifikasi itu hanya membutuhkan dana sekitar Rp50 per liter.

Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) mengatakan, fortifikasi vitamin A merupakan tindak lanjut dari keputusan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) nomor 39/2000 tentang Pembentukan Tim Pengarah dan Pelaksana Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Kekurangan Vitamin A.

Menurutnya, hingga saat ini, sebanyak dua produsen migor yang melakukan fortifikasi vitamin A pada produknya, yaitu PT Musimas yang basis produksinya berada di wilayah Sidoarjo dan PT Wilmar yang melakukan produksi di Palembang dan Pontianak.

Akademisi Institut Pertanian Bogor Drajat Martianto menilai, fortifikasi vitamin A seharusnya memang tidak perlu dilakukan. Pasalnya, ujar dia, kandungan betakaroten dalam kelapa sawit sudah cukup tinggi. Selain preferensi konsumen yang lebih menyukai migor bening, kata dia, maka teknologi yang diperlukan untuk mempertahankan betakaroten dalam kandungan migor memang relatif mahal.

Di mana jumlah biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk melakukan fortifikasi vitamin A adalah sekira USD70 untuk setiap kilogram vitamin A atau setara dengan satu juta IU retinil palmitate. Sementara, kata dia, dalam rancangan SNI mewajibkan kandungan retinil palmitate minimal sebesar 45 IU per kilogram migor.

“Fortifikasi akan berimplikasi pada kenaikan harga sebesar 0,36 persen, dengan asumsi harga migor seharga Rp9.000 per kilogram. Bila dimasukkan biaya lain seperti tenaga kerja, listrik, pengujian dan lain-lain, maka kenaikan harga menjadi Rp50-Rp60 atau 0,5 persen,” tandas Drajat.

 

Fortifikasi Minyak Goreng

Perusahaan kimia terkemuka di dunia (BASF) bekerjasama dengan Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI) memperkenalkan penambahan zat gizi mikro(fortifikasi) vitamin A pada minyak goreng guna mengatasi kekurangan vitamin A, terutama pada anak dan balita.

Fortifikasi minyak goreng merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyediakan vitamin A bagi anak-anak dan balita, juga masyarakat menengah ke bawah. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan beberapa mitra telah melakukan proyek percontohan fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng di Makassar, dan hasilnya terbukti dapat meningkatkan kebutuhan vitamin A pada anak-anak usia sekolah.

Fortifikasi minyak goreng tidak berbahaya dan tidak akan menyebabkan keracunan karena bentuknya berupa liquid (cairan) serta sudah disesuaikan dengan standar yang berlaku. Dosis fortifikasi vit A pada minyak goreng sudah diperhitungkan secara internasional, yakni sekitar 15 (ppm), atau misalnya dalam 8 ton minyak hanya mengandung 0,5 Kg Vit A, berbeda dengan vitamin A yang berbentuk suplemen yang penggunaannya harus diatur serta tidak diperkenankan untuk dikonsumsi secara berlebihan.

Umumnya anak-anak di Indonesia, hanya mengkonsumsi sekitar 40 persen vitamin A yang berasal dari asupan makanan, sementara kebutuhan ideal per hari seharusnya sekitar 60 persen. Karena itu fortifikasi vitamin A pada minyak goreng merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan asupan vitamin tersebut, mengingat sekitar 70 persen masyarakat di Indonesia setiap harinya mengkonsumsi minyak goreng. Kekurangan vit A pada anak-anak masih merupakan masalah yang perlu diatasi, biasanya banyak terjadi pada anak di bawah usia lima tahun, yang akan mempengaruhi ketahanan tubuh.

Fortifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk menanggulangi masalah ini. Sejak beberapa tahun lalu Depkes bersama KFI sudah melakukan penelitian fortifikasi vitamin A pada minyak goreng curah, yang terbukti dapat meningkatkan asupan vitamin A pada anak-anak dan juga balita.

Fortifikasi pada minyak goreng tidak berbahaya, juga tidak akan mengganggu pola makan yang dapat menyebabkan obesitas. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 25-30 persen kematian bayi dan balita disebabkan kekurangan vitamin A. Di Indonesia, sekitar 14,6 persen anak di atas usia 1 tahun mengalami kekurangan vitamin A dan berdampak pada penglihatan.

Daftar Pustaka
Anonim (a). 2009. Fortifikasi pada Minyak Goreng Bantu Atasi Kekurangan Vitamin A. http://www.depkominfo.go.id/2009/fortifikasi-pada-minyak-goreng-bantu-atasi-kekurangan-vitamin-a/

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s